2016 / Desember / 10   14:00

Anak Korban Perisakan Berisiko Mengalami Obesitas Saat Dewasa

Anak yang mengalami perisakan di sekolah memiliki risiko obesitas hampir dua kali lebih tinggi pada usia 18 tahun dibanding anak-anak yang bebas perisakan.

Anak Korban Perisakan Berisiko Mengalami Obesitas Saat DewasaIlustrasi (Stock Photo)

Perisakan atau bullying, merupakan fenomena yang marak terjadi di kalangan anak-anak, terutama di lingkungan sekolah. Perisakan bukan hanya berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental anak pada saat itu, namun juga dapat mempengaruhi kondisi fisik anak ketika menginjak usia dewasa.

Penelitian terbaru dari King’s College di London mengklaim bahwa anak yang mengalami perisakan di sekolah memiliki risiko obesitas hampir dua kali lebih tinggi pada usia 18 tahun dibanding anak-anak yang bebas perisakan.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychosomatic Medicine itu, para peneliti menganalisis hasil wawancara dengan 2.000 orang dewasa yang telah bergabung di Environment Risk (E-Risk) Longitudinal Twin Study sejak mereka kecil, sekitar tahun 1960-an. Peneliti mengukur indeks massa tubuh (BMI) dan rasio pinggang-pinggul, indikator lemak perut, saat usia mereka 18 tahun.

“Anak-anak yang mengalami perisakan parah di sekolah, berpotensi mengalami obesitas 1,7 kali lebih tinggi saat menginjak usia dewasa dibanding teman-temannya yang tidak dirisak sama sekali,” tulis peneliti.

Meskipun para peneliti tidak bisa mengatakan secara pasti bahwa perisakan menyebabkan seseorang menjadi obesitas, namun jika kita mengabaikan penjelasan lain seperti faktor genetik, kemungkinan ini bisa saja terjadi.

“Jika hubungan antara perisakan dan obesitas bersifat kausal, pencegahan perisakan dapat membantu kita mengurangi kecenderungan obesitas dalam populasi,” ujar peneliti Jessie Baldwin.

Ia mengatakan, selain mencegah perisakan, temuan ini menekankan pentingnya mendukung anak yang pernah mengalami perisakan untuk mencegah mereka mengalami obesitas.

“Dukungannya bisa berupa intervensi yang bertujuan untuk mendorong anak agar mengkonsumsi makanan sehat dan berolahraga.  Data kami menunjukkan intervensi semacam itu harus dimulai sejak dini,” pungkas Baldwin.

(Lutfi Fauziah. Sumber: Kelsey Drain/Medical Daily)

KOMENTAR