75 Tahun Berlalu, Korban Pearl Harbor Telah Memaafkan, Tetapi Tidak Melupakan
2016 / Desember / 8   08:00

75 Tahun Berlalu, Korban Pearl Harbor Telah Memaafkan, Tetapi Tidak Melupakan

Pada 7 Desember 1941, serangan mematikan Jepang meruntuhkan cap "negara tak terkalahkan" pada Amerika Serikat, dan menyeret negara itu dalam Perang Dunia II.

75 Tahun Berlalu, Korban Pearl Harbor Telah Memaafkan, Tetapi Tidak MelupakanFoto udara World War II Valor di Pasific National Monument mengungkap garis-garis samar kapal U.S.S. Arizona yang karam. Serangan mendadak pada 7 Desember 1941 menewaskan 1.177 awak kapal. (David Doubilet/National Geographic)

Tujuh puluh lima tahun berlalu, kapal tempur U.S.S. Arizona masih berbaring di kedalaman 12 meter di dasar laut berlumpur Pearl Harbor.

Kapal tersebut sudah bersemayam di sana sejak 7 Desember 1941 pagi, ketika 353 pesawat tempur Jepang melancarkan serangan mendadak pada Angkatan Laut Amerika Serikat. Serangan itu menewaskan 2.403 personel AS, sementara 1.178 lainnya luka-luka. Sejak saat itu pula AS terseret dalam Perang Dunia II dan mengubah sejarah negeri itu selamanya.

Hampir seribu dari 1.177 prajurit Kapal Arizona masih terkubur dalam lambung kapal yang perlahan berkarat ini. Jumlah korban selamat menyusut hingga tersisa lima orang. Keberadaan kapal yang abadi, menimbulkan janji bahwa kekejian ini tak akan pernah terlupakan.

Tak ada hal yang kurang dalam acara peringatan 75 tahun peristiwa Pearl Harbor minggu ini, dari reuni hingga jajaran karangan bunga untuk konser dan parade. Arizona, tetap menjadi jangkar situs itu, sebagai simbol pengorbanan, sekaligus sumber penyelidikan ilmiah dan situs rekonsiliasi.

Kisah korban selamat

“Saat itu benar-benar hari yang buruk. Awal hari itu cukup bagus, tetapi kemudian… yah, Anda tahu sisanya,”  kata Donald Stratton, korban selamat yang kini berusia 94 tahun.

Bagi Stratton, yang saat kejadian baru berusia 19 tahun, ia bisa selamat dari serangan berkat keajaiban. Ketika bom Jepang seberat hampir 800 kilogram menghantam Arizona. Akibatnya, bom tersebut menyalakan 180.000 galon bahan bakar pesawat, 500 ton mesiu, dan lebih dari 500.000 amunisi.

Ledakan tersebut menyebabkan kapal dilalap bola api setinggi lebih dari 15 meter, yang mencabik pelindung senjata anti pesawat tempat Stratton berdiri. Ia menderita luka bakar hampir 70 persen dari tubuhnya. “Kini saya tak punya sidik jari sedikit pun,” katanya.

Stratton menghabiskan waktu setahun untuk proses penyembuhan di rumah sakit militer. Kemudian ia mendaftar militer kembali pada 1944. “Sebagian berasal dari rasa balas dendam,” katanya.

Potret Donald Stratton muda. ...Potret Donald Stratton muda. Pada Oktober 1940, Stratton terdaftar sebagai anggota Angkatan Laut AS Kelas Pertama. Kini, ia merupakan satu dari lima korban selamat dari kapal U.S.S. Arizona. (Dok. Keluarga Stratton)

“Tetapi setelah bertahun-trahun, saya akhirnya menyadari, para pilot Jepang itu hanya mematuhi perintah, sama seperti kami,” lanjutnya.

Buku baru karya Stratton, All the Gallant Men (dibantu oleh Ken Gire), merupakan memoar pertama dari korban selamat U.S.S. Arizona. Tetapi ia bukan satu-satunya awak kapal naas tersebut yang menulis buku. Lauren Bruner, prajurit berusia 21 tahun saat serangan terjadi, telah menulis novel berjudul Second to the Last to Leave (dibantu oleh Edward McGrath dan Craig Thompson).

“Saya ingat ketika saya bangun pagi dan sarapan pada hari itu,” kenang Bruner yang kini berusia 96 tahun. “Malam itu saya seharusnya berkencan dengan pacar saya, tetapi akhirnya saya tak bisa menepatinya,” tuturnya.

Ketika bom menghantam Arizona, ledakan menjebak Bruner dan enam orang lainnya dalam sebuah pelindung logam pada tiang depan. Seperti Stratton, Bruner mengalami luka bakar lebih dari dua pertiga bagian tubuhnya. Seorang pelaut,  yang berada di dek kapal, melihat mereka dan melemparkan tali. Bruner dan teman-temannya berhasil menyeberang dengan selamat, meskipun kulit-kulit hangus berjatuhan dari tubuh mereka.

Setengah tahun kemudian, setelah mendapat perawatan di dua rumah sakit, Bruner mendaftar militer kembali. Tugas keduanya membawa ia ke Pulau Aleutian, Filipina, dan Nagasaki, Jepang.

Meskipun masih ada rasa ngeri di Pearl Harbor, situs tersebut tetap menjadi surga baginya. “Menuju ke sana tahun ini untuk bergabung bersama korban Arizona lainnya, ibarat kembali ke rumah lagi. Saya mengenal mereka dengan sangat baik,” katanya.

Ilmu pengetahuan bawah laut

Angkatan Laut AS mengawasi lokasi kejadian hingga 1980. Setelah itu, mereka berbagi tugas dengan Submerged Resource Center (SRC), tim terkemuka dari National Park Service yang beranggotakan para arkeolog dan fotografer bawah laut.

Brett Seymor, wakil kepala SRC sekaligus fotografer, telah menyelam di lokasi selama hampir 20 tahun. Ia menjelaskan, Arizona pertama kali dipetakan pada awal 1980-an. Selama dua dekade berikutnya, SRC melakukan serangkaian penelitian korosi, analisis minyak (Arizona masih mengalami kebocoran minyak 5-8 liter perhari) dan investigasi interior untuk mencari tahu berapa lama badan kapal mungkin bertahan (Beberapa ratus tahun lagi, kata Seymour, berkat kurangnya oksigen yang tak biasa, karat dan korosi).

Seorang penyelam National Park ...Seorang penyelam National Park Service memeriksa tiga senapan di luar kapal U.S.S. Arizona. Bagian kapal diselamatkan selama Perang Dunia II, namun senjata ini tidak ditemukan di perairan keruh Pearl Harbor sampai 1983. (Brett Seymour/National Park Service via National Geographic)

Proses penafsirkan dan pengelolaan situs dilakukan melalui penelitian, fotografi, dan pemetaan digital dengan menggunakan sonar, fotogrametri, dan laser bawah laut. Tahun lalu, SRC meluncurkan gambar cetak kapal tiga dimensi. Tahun ini, SRC akan menghadiahkan gambar 3D itu kepada Stratton, Bruner dan korban lainnya.

Eksplorasi awal kapal terjadi sebulan setelah serangan Jepang, ketika penyelam Angkatan Laut menyelamatkan senjata dan perangkat keras dari Arizona, serta brankas, buku catatan, dan artileri hidup. Sejak itu, penyelam tidak diizinkan masuk, untuk menghormati prajurit yang dimakamkan di kapal.

KOMENTAR