2016 / November / 10   16:59

Penghijauan Global Dapat Memperlambat Pelepasan Emisi Karbon di Atmosfer

Penghijauan planet secara global telah memperlambat kenaikan jumlah karbon dioksida di atmosfer sejak awal abad ini.

Penghijauan Global Dapat Memperlambat Pelepasan Emisi Karbon di AtmosferIlustrasi (Thinkstock)

Banyaknya tanaman yang telah tumbuh selama tingkat kadar CO2 yang tinggi pada suhu udara dan pemanasan dapat membantu mengurangi kadar CO2 melalui respirasi tanaman. Efek tersebut menghasilkan jumlah emisi karbon tahunan di udara menurun mulai dari 50 persen menjadi 40 persen dalam dekade terakhir.

Bagaimanapun, penghijauan ini hanya mengimbangi sejumlah kecil miliyaran ton CO2 yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan manusia lainnya yang tidak akan menghentikan pemanasan global yang berbahaya. “Namun, peningkatan ini cukup dekat untuk menghentikan pemanasan global,” kata Dr Trevor Keenan, di Lawrence Berkeley National Laboratory di Amerika Serikat yang memimpin peneletian terbaru.

Tingkat absolut CO2 di atmosfer terus meningkat dan melanggar tonggak dari 400 bagian per juta pada tahun 2015, dan peningkatan suhu teus melampaui catatan.

World Meterological Organisation (WMO) telah memperingatkan pada Selasa bahwa tahun 2011-2015 adalah periode terpanas selama lima tahun dari yang pernah tercatat dan perubahan iklim telah meningkatkan risiko setengah dari peristiwa cuaca ekstrim, dengan gelombang panas 10 kali lebih panas yang terbentuk akibat pemanasan global.

Penelitian terbaru pada penghijauan global telah diterbitkan dalam Natural Commincation oleh sebuah kelompok ilmuwan internasional yang menyimpulkan bahwa dengan mengurangi emisi karbon penting dilakukan untuk mencegah perubahan iklim yang parah.

“Peningkatan penyerapan karbon oleh biosfer hingga saat ini telah memperlambat laju pertumbuhan CO2 si atmosfer dan hasil kami (menyarankan) serapan tersebut menjadi kuat belakangan ini,”tulis mereka. “Tanpa pengurangan efektif emisi CO2 global, perubahan iklim di masa depan akan menjadi semakin memburuk.”

Prof. Corinne Le Quere, Director of the Tyndall Centre di University of East Anglia yang tidak terlibat dalam penelitian terbaru mengatakan, “Vegetasi alami adalah bantuan luar biasa yang dapat memperlambat perubahan iklim dengan menyerap sekitar seperempat dari emisi karbon kita dari pembakaran bahan fosil.”

“Mesikpun bantuan ini tidak cukup untuk menghentikan planet dari pemanasan, emisi karbon harus terus diturunkan hingga hampir nol untuk menghentikan pemanasan global.”

Para peneliti menemukan bahwa antara tahun 1960 dan 2000 kenaikan CO2 di atmosfer meningkat setiap tahun, tapi itu setelah tahun 2000 tingkat melambat menjadi sekitar peningkatan yang sama setiap tahun. Mereka menemukan bahwa faktor utama adalah tingkat CO2 yang lebih tinggi, yang hanya 290ppm pada awal abad terakhir, dibandingkan dengan 400ppm  pada hari ini.

Prof Chris Rapley, di University College London, mengatakan: "Para peneliti menjelaskan bahwa efek ini hanya bertahan sementara. Efek penghijauan dari CO2 pada akhirnya akan kewalahan oleh respirasi dan pembusukan tumbuhan itu sendiri, dan akan menyebabkan emisi CO2 yang akan dilepaskan.

Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya melestarikan hutan dan ekosistem lainnya yang menyerap karbon, kata Prof Dave Reay, di University of Edinburgh: “ Tanah dan lautan telah menjamin kita dari perubahan iklim yang berbahaya selama beberapa dekade. Kecuali kunci dari penyerap karbon utama seperti hutan lindung,  dalam keadaan yang buruk.”

WMO menyerahkan laporan baru ke KTT perubahan iklim PBB yang berlangsung di Maroko . "Kami mengalami periode terpanas selama lima tahun, dengan tahun 2015 dikatakan sebagai tahun terpanas. Bahkan yang catatan terparah kemungkinan akan terjadi pada 2016 , "kata Sekjen WMO, Petteri Taalas.

"Dampak dari perubahan iklim telah secara konsisten terlihat pada skala global sejak 1980-an: meningkatnya suhu global, baik di atas tanah dan di laut; Kenaikan permukaan laut; dan mencairnya es, "katanya. "Ini telah meningkatkan risiko kejadian ekstrim seperti gelombang panas, kekeringan, rekor curah hujan dan banjir yang berbahaya."

(Nisrina Darnila. Sumber: Damian Carrington/theguardian.com)

KOMENTAR