2016 / November / 2   10:26

Menelusuri Pembuatan Mumi di Papua Nugini

Seorang fotografer mengambil beberapa gambar unik dalam pembuatan mumi di sebuah desa Papua Nugini.

Menelusuri Pembuatan Mumi di Papua NuginiTujuh orang dari keluarga Gemtasu dalam melaksanakan proses mumifikasi. Dalam tahap ini, tubuhnya akan ditempatkan di atas api. (Ulla Lohmann via nationalgeographic.com)

Ketika Ulla Lohman pertama kali bertemu dengan suku Anga di Papua Nugini pada 2003, sesepuh dari suku Anga itu memintanya untuk pergi meninggalkan desa. Suku Anga tidak terbiasa dengan keberadaan orang asing di desanya, dan mereka juga tidak suka ketika budaya mereka dilihat oleh orang luar.

Suku Anga dikenal sebagai suku yang memumikan anggota sukunya ketika meninggal. Iitulah yang menjadi alasan Lohman ingin mengunjungi suku yang berada di dataran tinggi bagian barat Papua Nugini ini. Suku ini memiliki sejarah yang panjang di balik proses mumifikasi. Mereka menggantung mumi tinggi-tinggi, seolah-olah orang tua mereka sedang mengawasi prosesi ini.

Saat itu Lohmann ditolak ketika meminta izin kepada anggota suku. Namun, tidak lama kemudian, ia kembali lagi secara teratur selama satu dekade, demi mendapatkan izin. Dia hanya ingin mempelajari suku tersebut, melihat bagaimana para anggota suku hidup dan bagaimana mereka ketika menghadapi kematian.

Selama beberapa kunjungan pertamanya, dia mendapat akses tambahan untuk mempelajari budaya suku tersebut. Setelah menempuh lintasan menuju dataran tinggi, salah satu tetua suku, yang bernama Gemtasu, menceritakan satu hal kepadanya: Ketika ia meninggal, ia ingin dimumikan.

Suku Anga terdiri atas 45.000 orang. Mereka memiliki proses mumifikasi yang jauh berbeda dengan cara Mesir kuno. Masyarakat Mesir kuno biasanya membongkar tubuh bagian dalam mayat dan kemudian menghilangkan organ, lalu dibungkus dengan sebuah kain. Sedangkan dalam mumifikasi suku Anga, tubuh mereka didudukkan di atas asap selama tiga bulan. Asap membantu mengawetkan mayat dalam budaya tropis.

Metode mumifikasi terdiri atas struktur yang ketat. Tubuh yang tergantung di atas api, karena menggembung, mayat akan disodok menggunakan tongkat secara lembut guna melebarkan anus. Tujuannya, untuk mengalirkan cairan dan membantu untuk merontokkan organ di dalam tubuh.

Bagian terpenting dari proses ini bertujuan untuk menjaga wajah mayat tersebut tetap utuh. Dalam budaya mereka, satu-satunya cara untuk melestarikan sosok seseorang yang meninggal adalah dengan melihat secara fisik wajah abadinya.

“Jika kita memiliki foto, mereka (suku Anga) memiliki mumi,” kata Lohmann. ”Suku Anga percaya bahwa roh-roh akan berkeliaran secara bebas pada siang hari dan kembali ke dalam tubuh mumi mereka pada malam hari. Tanpa melihat wajah mereka, roh-roh tersebut tidak dapat menemukan tubuh mereka sendiri dan berkeliaran selamanya.”

Proses mumifikasi pernah tersebar luas di Papua Nugini dan pulau-pulau Pasifik Selatan lainnya pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.  Cara mengawetkan tubuh seseorang dipandang sebagai upaya untuk menjaga kenangan, dibanding penguburan dalam tanah. Namun, kedatangan misionaris Kristen dan pejabat pemerintah Inggris dan Australia pada pertengahan abad ke-20 memunculkan stigma dalam hal moralitas dan kebersihan.

Kendati Gemtasu  tidak mengetahui berapa lama ia akan hidup, ia merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat. Ia sadar betapa pentingnya mempertahankan suatu tradisi. Dengan menjadi mumi, Ia percaya dapat melindungi keluarganya. Gemtasu mengajarkan kepada anak-anaknya yang telah dewasa bagaimana cara mumifikasi. Dan, Gemtasu meminta secara langsung kepada Lohmann untuk memotret proses mumifikasi dirinya dan membagikan cerita tentang dirinya.

Anak-anaknya, seperti kebanyakan anggota suku lain, tentu menolak hal tersebut. Mereka mengatakan telah meninggalkan tradisi mumifikasi yang memakan banyak tenaga dan waktu, selain itu juga akibat bau menyengat yang dihasilkan dari daging manusia yang diasap. Suku ini juga sudah mengalami penipisan jumlah anggota karena urbanisasi ke kota-kota pelabuhan. 

“Ayah mendesak saya terus dalam waktu yang cukup lama, sehingga saya tidak dapat melakukan apa-apalagi untuk menolaknya, selain berjanji dan mewujudkan keinginan dirinya menjadi kenyataan,” kata Awateng, salah satu anak Gemtasu.

Dan kemudian, pada 2015 lalu, Gemtasu wafat.

Tubuh Gemtasu yang sedang ...Tubuh Gemtasu yang sedang diasapi. (Ulla Lohmann via nationalgeographic.com)

Sesuai dengan permintaan Gemtasu, Lohmann kembali ke Papua Nugini untuk menyaksikan dan memotret proses mumifikasi.  Tujuh orang lelaki dewasa, termasuk cucu Gemtasu, memulai proses mumifikasi dengan tanah liat putih yang dioleskan pada wajah mereka,sebagai tanda duka. Berdasarkan peraturan upacara, mereka tidak diizinkan meminum air selain jus tebu dan hanya boleh memakan makanan yang dimasak di atas api yang sedang mengasapi tubuh Gemtasu.

Lohmann mengamati seluruh rangkaian selama satu minggu. Dia menyaksikan tubuh Gemtasu membengkak, menghitam, dan akhirnya mengeras. Tujuh orang yang melakukan ritual akan mengoleskan cairan dari tubuh Gemtasu pada diri mereka sebagai salah satu tindakan untuk memilihara semangatnya. Dalam aturan tersebut juga dikatakan, orang-orang tersebut tidak diizinkan untuk mencuci diri mereka selama proses mumifikasi yang memakan waktu selama tiga bulan. Mereka juga tidak diperkenankan meninggalkan lokasi tersebut.

Tujuan mumifikasi dalam budaya Anga adalah untuk mengejar kehidupan yang kekal, atau setidaknya merasakan kehadiran secara fisik bagi mereka yang telah meninggal. Dalam tradisi mereka, tahap akhir dari proses mumifikasi adalah membawa mumi dan menempatkannya di tebing batu yang menghadap ke desa. Pada tahap itu pula tubuh yang baru meninggal perlahan-lahan membusuk dan kerangka abadi mereka menjadi pengingat bagi orang-orang yang masih hidup.

(Nisrina Darnila. Sumber: Daniel Stone/nationalgeographic.com)

KOMENTAR