Kurang Tidur Cenderung Bikin Makan Lebih Banyak

2016 / November / 3   19:38

Kurang Tidur Cenderung Bikin Makan Lebih Banyak

Ternyata ada kaitannya antara kurang tidur dan rasa lapar. Semakin kurang waktu tidur Anda, semakin banyak pula makanan yang akan Anda konsumsi.

Kurang Tidur Cenderung Bikin Makan Lebih BanyakIlustrasi (Thinkstock)

Mungkin Anda pernah mengalami ini, ketika semalam tak tidur, seharian Anda merasa lapar sekali. Riset membuktikan kebenaran hal ini. Anda mungkin tak menyadari berapa kalori tambahan yang diasup saat kurang tidur.

Belakangan ini cukup tidur muncul sebagai pilar ketiga untuk mengontrol berat badan bersama dengan olahraga dan pola makan sehat. Studi-studi sebelumnya berhasil membuktikan hubungan kurang tidur dengan obesitas dan diabetes tipe 2. Namun riset baru ini merupakan yang pertama menghitung ekstra kalori sebagai akibat kurang tidur.

Dalam sebuah studi yang diterbitkan di European Journal of Clinical Nutrition, periset menghitung jumlah tambahan kalori yang dimakan oleh mereka yang kelelahan akibat kurang tidur.

Untuk melakukan riset tersebut, peneliti mengumpulkan hasil dari 11 studi sebelumnya yang meneliti "kurang tidur parsial" dan konsumsi kalori. Kurang tidur parsial berarti seseorang tidur hanya sebagian tidak sepanjang malam.

"Tidur tidak sepanjang malam ini dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur," kata peneliti Gerda Pot, PhD.

Studi-studi itu melibatkan 172 orang usia 18-50 tahun, pria dan wanita yang tak hanya berberat badan normal, tapi juga yang kelebihan berat dan obesitas. Semua studi melibatkan grup kontrol orang tidak cukup tidur, dan tidur 7 hingga 12 jam semalam. Orang yang kurang tidur menulis hanya tidur 3,5 hingga 5,5 jam di tempat tidur.

Periset menemukan orang yang kurang tidur mengonsumsi rata-rata ekstra 385 kalori sehari. "Ini setara dengan empat setengah potong roti," kata Pot.

"Tambahan lagi, mereka mengonsumsi lebih banyak lemak dan lebih sedikit protein," tambah Pot. Konsumsi karbohidrat secara kasar kurang lebih sama.

Periset lain berspekulasi kurang tidur mungkin mempengaruhi hormon yang berhubungan dengan rasa lapar seperti leptin dan ghrelin. Tetapi Pot dan rekan-rekannya percaya pejelasannya mungkin "hedonis", artinya makan berlebihan saat kurang tidur karena mereka mencari kesenangan.

Sharon Zarabi, RD, direktur program bariatrik di Lenox Hill Hospital New York City berbagi dugaan yang sama. Keinginan makan berlebihan mungkin karena mereka gelisah dan tak dapat memuaskan kecemasan mereka dengan makan. Zarabi tak terlibat dalam studi baru tersebut.

Peneliti pun menemukan terjaga di malam hari sebenarnya tak membakar kalori ekstra. Ini membuktikan tak cukup tidur dalam jangka panjang adalah resep untuk mengalami kenaikan berat badan.

Tetapi, tak satu pun dari studi yang diikutsertakan berlangsung tak lebih dari dua minggu sehingga tak mungkin mengetahui jika tambahan kalori itu juga menambah berat badan pula.

Peneliti saat ini melakukan riset pada orang yang tak tidur cukup. "Kami perlu melakukan riset tambahan terhadap tidur sebagai faktor risiko yang dapat diperbaiki untuk obesitas dan mungkin juga penyakit kardio-metabolik seperti diabetes, khususnya di tengah masyarakat saat ini yang cenderung kurang tidur," kata Pot.

(Sumber: Kontributor Health, Dhorothea/Kompas.com)

KOMENTAR