Kumpulan Peta Ini Mengungkap Kehidupan dan Perilaku Satwa Liar

Teknologi terbaru memungkinkan para pembuat peta mengikuti babon, burung bangkai, dan segala sesuatu secara sekaligus.

Kumpulan Peta Ini Mengungkap Kehidupan dan Perilaku Satwa LiarMelacak data dari elang berkepala abu-abu mengungkapkan beberapa burung tetap tinggal di sarangnya, sementara burung lainnya mengikuti angin hingga 25.000 km bermigrasi di sekitar Antartika (via nationalgeographic.com)

Melacak jejak binatang liar tidak lekang dari menelusuri hutan dengan menggunakan clipboard dan teropong serta berharap melihat sekilas hewan atau setidaknya tumpukkan dari kotoran hewan untuk mengetahui keberadaannya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, teknologi telah membuat sebuah kemudahan untuk melacak pergerakkan hewan-hewan dari jauh dan juga lebih detail. Mulai dari elang yang sedang beroutar-putar di atas Antartika, kura-kura tempayan bermigrasi melintasi Atlantik, atau gajah Afrika yang sedang mencoba untuk memetakan lanskap karena semakin terganggu oleh pemukiman manusia.

Seorang ahli geografi James Cheshire dan desainer Oliver Uberti telah mencipatkan sebuah data dari 50 peta yang indah dan menarik yang juga mengungkapkan pengembaraan hewan yang tertangkap oleh satelit, kamera trap, drone dan alat-alat lainnya.Hasil dari buku terbaru milik mereka, Where the Animals Go.

Para penulis membicarakan kepada sejumlah ilmuwan. Meskipun beberapa peneliti tidak bersedia untuk berbagi data yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun hingga puluhan tahun, masih banyak pula yang senang untuk membantu. Beberapa dari ilmuwan tersebut telah mem-posting penemuan mereka secara terbuka di situs Movebank atau zoaTrack.

Sensor yang melekat pada burung ...Sensor yang melekat pada burung bangkat griffon menunjukkan bahwa burung akan terbang lebih tinggi ketika mencari makanan untuk mereka. (Where the Animals Go, James Cheshire & Oliver Uberti via nationalgeographic.com)

Buku ini penuh dengan catatan perjalanan yang menakjubkan, seperti catatan dari  Dutch terns atau sejenis burung laut bergenus Sterna yang terbang sejauh 90.000 kilometer dari Belanda, menyusuri pantai barat Afrika, Ke Tasmania, dan kembali ke sarangnya setelah tinggal di Antartika. Selain itu, pergerakkan dari lebah asal Jeman yang berpindah dari Prancis serta perpindahan buaya di Australia.

Sebagai alat pelacak yang lebih kecil, cepat dan dilengkapi dengan sensor serta mampu menyimpan data lebih banyak data dari sebelumnya, para ilmuwan sangat dimudahkan untuk mendapatkan informasi bagimana perilaku hewan di alam liar. “beberapa waktu yang lalu, para ilmuwan mendapatkan satu atau dua informasi tambahan tiap harinya, untuk mendapatkan lokasi keberadaan hewan. Namun, saat ini mereka bisa mendapatkan informasi tersebut hanya dalam beberapa detik,” kata Cheshire.

Para peneliti melacak ...Para peneliti melacak sekelompok babon yang hidup di sekitar sungai Ewaso Ng'iro di Kenya untuk mempelajari bagaimana kelompok tersebut menentukan waktu mereka untuk berpindah lokasi. (via nationalgeographic.com)

Di Mplala Research Centre, Kenya seorang antropolog Margaret Crofoot mendapatk keuntungan dari tingkat pengambilan sampel yang lebih banyak untuk mempelajari perilaku, pengambilan keputusan pada babon yang dilengkapi dengan kerah ber-GPS.

Salah satu seri dari peta dalam buku ini menunjukkan apa yang terjadi suatu hari pada dua ekor babon yang menggunakan perangkat tersebut untuk memimpin kawanannya. Sangat mengejutkan bagi para peneliti, beberapa ekor babon kemudian mengikuti mereka dalam beberapa menit dan segera seluruh pasukan dari 46 ekor babon itu bergerak bersama.

Teknologi pelacakan semakin banyak digunakan untuk melindungi hewan serta untuk mempelajarinya. Di Tsavo National Park, kelompok konservasi Save the Elephants telah menggunakan kerah GPS untuk menyelidiki gajah. Save the Elephants juga telah bekerja sama dengan perusahaan teknologi untuk melacak gajah secara real time dan menggunakan data dari accelerometer (mirip dengan perangkat pada smartphone Anda yang dapat menghitung berapa banyak langkah Anda)di leher hewan untuk mengirim sebuah pesan teks jika melambat atau berhenti bergerak karena adanya indikasi kemungkinan hewan tersebut telah tertembak oleh pemburu.

"Dalam batas tertentu, alat ini dapat memberitahu para penegak hukum dan mengirim seseorang untuk memeriksa keadaan hewan tersebut," kata Uberti.

Di Peru, para peneliti ...Di Peru, para peneliti menggunakan pelacak GPS dan kamera untuk mempelajari beberapa jaguar dan bagaimana mereka berbagi hutan dengan hewan lainnya. (via nationalgeographic.com)

(Nisrina Darnila. Sumber: Greg Miller/nationalgeographic.com)

KOMENTAR