Kesaksian Anak Indekos di Indonesische Club

2016 / November / 5   16:30

Kesaksian Anak Indekos di Indonesische Club

Mungkin inilah satu-satunya laporan pandangan mata jelang Indonesia Raya bergelora di pemondokan mahasiswa.

Kesaksian Anak Indekos di Indonesische ClubPesan antargenerasi: Kami tinggal kenangan tetapi semangat kami tak pernah mati. Diorama yang menampilkan sosok W.R. Soepratman dan para tokoh pemuda dari beberapa daerah. (Toto Santiko Budi/National Geographic Traveler)

“Semua penghuni adalah anggota aktip perkumpulan pemuda,” ungkap Raden Soeharto yang mencoba menggambarkan suasana sehari-hari Indonesische Club (IC). Kemudian dia melanjutkan, “...dan meja makan pagi adalah tempat kita kumpul secara lengkap sambil makan pagi membicarakan berbagai hal yang aktuil.”

Setiap pagi, Soeharto dan teman-teman yang berasal dari penjuru Nusantara selalu berbincang di meja makan Indonesische Club—kini, kita mengenangnya sebagai Museum Sumpah Pemuda. Tampaknya, perjuangan pemuda Indonesia berawal dari semangat bersantap di meja makan itu.

Kendati menu bersantap disediakan, Indonesische Club bukanlah indekos papan atas. Soeharto berkisah, ada pedagang makanan yang senantiasa nongkrong di pekarangan pondokan dan sekitarnya. Saat sarapan, pedagang khas Betawi menjajakan ketan, ikan kembung goreng dengan sambal dan lalapan taoge. Saat makan siang, penjual menjajakan nasi dan gado-gado. Sementara, pedagang nasi dan bakmi kuah kol tomat tersedia saat makan malam tiba.

Namun, suasana pagi Jalan Kramat No.106 pada 28 Oktober 1928 sungguh berbeda, kenang Soeharto. “Mungkin karena kesibukan kongres, mungkin juga hidangannya tidak menarik,” ungkapnya. “Maklum, kwalitas makanan di IC menurun dengan meningkatnya tanggal.”

Tampaknya, nasib anak indekos tempo dulu, tak jauh berbeda dengan nasib anak indekos zaman kini. Bagi mereka, setiap akhir bulan adalah masa-masa kritis yang berulang tak berkesudahan.

Tampaknya, nasib anak indekos tempo dulu, tak jauh berbeda dengan nasib anak indekos zaman kini. Bagi mereka, setiap akhir bulan adalah masa-masa kritis yang berulang tak berkesudahan.

“Saya masih ingat,” ungkapnya, “bahwa untuk sewa kamar inklusip makanan tiga kali sehari, membayar per bulannya Fl 12,50 atau harganya [setara] 40 liter beras waktu itu.”

Saat itu Raden Soeharto, yang kelahiran Surakarta, merupakan mahasiswa tahun pertama Facultas Medica Bataviensis, Bataviase Geneeskundige Hoogeschool (GHS)—kelak cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Soeharto merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Raden Sastrosoejoso dan ibunya, Hermina. Kediaman keluarga ini berada di seberang jalan Pesanggrahan Tegalgondo di Surakarta, Jawa Tengah. Kabarnya, pesanggrahan itu tempat tetirah Pakubuwana X.

Dia mujur bisa sekolah di Batavia berkat beasiswa dari Pemerintah Belanda dan Tjandi-Stichting. Mahasiswa yang belum genap usia 20 tahun itu juga sudah menjabat sebagai salah satu Pengurus Besar Jong Java.  Maklumlah, semenjak Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (setingkat SMP) di Madiun, dia aktif sebagai anggota Jong Java dan Jong Islamieten Bond.

Soeharto mengungkapkan salah satu kenangannya selama menjadi anak indekos jelang Kongres Pemuda II yang digelar di Indonesische Club. Kakaknya, yang bernama Raden Soekamso, turut hadir dalam perhelatan akbar para pemuda itu. Sang kakak yang mahasiswa Technische Hoogeschool di Bandung bermalam beberapa hari di kamarnya.  

Sebuah kenangan lain turut membangkitkan rasa emosionalnya. Ketika itu hari Sabtu, 20 Oktober 1928, menjelang magrib. Sekonyong-konyong, seseorang lelaki berperawakan kurus memasuki pemondokan itu, demikian kisahnya. “Busananya sangat sederhana, mengempit biola yang sudah agak butut.”

“Busananya sangat sederhana, mengempit biola yang sudah agak butut.”

Lelaki kurus itu berjalan menuju beranda belakang. Dia “dengan semangat memperdengarkan lagu yang sama berulang-ulang kali,” kenang Soeharto. “...dan kadang-kadang juga menyanyi dengan suara yang agak parau.”

Belakangan, Soeharto mengenalnya sebagai Wage Rudolf Soepratman. Dan, lagu yang berulang kali dimainkannya dengan biola butut itu bertajuk “Indonesia Raya”.  

Kita mengenal Soepratman sebagai jurnalis harian terkemuka Sin Po. Dia mulai bermain biola dalam sebuah kelompok musik di Makassar. Sebagai jurnalis, karya jurnalistiknya tak ada yang terekam. Sebagai pemusik pun, hanya segelintir partiturnya yang sampai pada kita.  

Pada Minggu, 28 Oktober 1928, beberapa saat seusai para pemuda mengikrarkan sumpah mereka pada Kongres Pemuda II, Soeharto kembali menyaksikan pentas kecil Soepratman yang mengharukan. “Saya menyaksikan betapa hebatnya lagu itu disambut Kongres,” ungkapnya. “...dan Soepratman dengan senyum-senyum dan mata yang berkaca-kaca menerima ucapan selamat dan pelukan para hadirin.”

Pemerintah Hindia Belanda memang pernah melarang untuk mengadakan rapat-rapat, sebutan pelarangan zaman itu “vergader-verbod”. Dari partai politik, organisasi pemuda, sampai organisasi wanita yang dianggap revolusioner akan diberangus. Lewat Politieke Inlichtingen Dienst (PID), pemerintah  memantau kegiatan politik. Agen-agen PID kerap disusupkan dalam segala macam rapat politik. Bahkan, acara selamatan atau sunatan pun harus seizin mereka. Siapa saja yang melanggar, bakal berurusan dengan pengadilan.

“Petugas PID yang juga hadir biasanya sangat mengganggu rapat-rapat pemuda dengan tegoran-tegorannya, nampak diam bengong,” kenang Soeharto. “Mungkin karena tidak dapat menangkap dengan cepat maknanya, mungkin juga karena ikut terharu.”

Bagi Soeharto, Kongres Pemuda 1928 merupakan peristiwa monumental bagi dirinya sendiri dan sejarah perjuangan Indonesia lewat ikrar Sumpah Pemuda. Menurutnya, sejak 1928 hingga awal 1945, pemuda tidak memberikan kejutan-kejutan yang spektakuler. Kejutan dari para pemuda baru terjadi pada Peristiwa Blitar Februari 1945, ungkapnya, yang disusul Gerakan Rakyat Baru, dan hari-hari jelang Proklamasi Kemerdekaan.

Kisah ini dinukil dari catatan Soeharto bertajuk “Panca Dasa Warsa Sumpah Pemuda” yang merupakan kumpulan tulisan dalam buku Bunga Rampai Sumpah Pemuda. Buku itu dihimpun oleh Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta, dan diterbitkan Balai Pustaka, untuk memperingati 50 tahun Sumpah Pemuda pada Oktober 1978.

“Harapan saya jangan hendaknya pemuda-pemuda kita sekarang mengadakan perkumpulan atau kelompok-kelompok yang bersifat kedaerahan. Himpunlah semua kekuatan dalam wadah seperti yang kini dimiliki oleh Pramuka Indonesia.”

Sepanjang ingatannya, sejumlah pemuda lain yang turut indekos di gedung itu kelak menjadi pejabat dalam pemerintahan Soekarno. Mohammad Jamin asal Sawahlunto (kelak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), Amir Sjarifoedin asal Medan (kelak Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan), Adnan Kapau Gani asal Agam (kelak Wakil Perdana Menteri, Menteri Perekonomian dan Kemakmuran), Aboe Hanifah asal Padang Panjang (kelak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Duta Besar di Roma).

Lalu bagaimana nasib Soeharto?

Tidak lama setelah Kongres Pemuda II, dia pindah ke pemondokan lebih mewah di Jalan Tanah Komandan, yang menurutnya memiliki suasana lebih tenang untuk belajar. Dia mendapat gelar ilmiah “Arts” ( dokter ) dari GHS pada 25 Mei 1935. Dari institusi yang sama, dia juga mendapat gelar ilmiah “Medicinae Doctorem” (doktor) pada 14 April 1937. Sepanjang 1942-66, dia menjabat sebagai dokter pribadi Sukarno.  Dialah yang memberikan suntikan chinine-urethan dan tablet broomchinine kepada Soekarno yang sedang demam malaria nan hebat beberapa saat jelang Proklamasi Kemerdekaan. Dia juga turut memprakarsai lahirnya Universitas Gadjah Mada pada 1949, dan lahirnya Ikatan Dokter Indonesia pada 1950. Sementara, gelar Mayor Jenderal Tituler dianugerahkan kepadanya pada 7 Agustus 1964.  

“Corak masyarakat kita nanti banyak ditentukan oleh corak pemuda kita sekarang ini,” tulis Raden Soeharto dalam paragraf terakhir catatannya setelah setengah abad peristiwa di Indonesische Club. “Harapan saya jangan hendaknya pemuda-pemuda kita sekarang mengadakan perkumpulan atau kelompok-kelompok yang bersifat kedaerahan. Himpunlah semua kekuatan dalam wadah seperti yang kini dimiliki oleh Pramuka Indonesia.”

Jurnalis | Editor National Geographic Indonesia dan National Geographic Traveler Indonesia | "For the increase and diffusion of geographic knowledge"

KOMENTAR