Awas! Jejak Bakteri Kebal Antibiotik Mengambang di Udara Perkotaan

2016 / November / 22   18:17

Awas! Jejak Bakteri Kebal Antibiotik Mengambang di Udara Perkotaan

Udara kota yang tercemar bisa menjadi lebih berisiko mengancam kesehatan lebih dari yang kita duga, karena mengandung jejak bakteri yang kebal antibiotik.

Awas! Jejak Bakteri Kebal Antibiotik Mengambang di Udara PerkotaanIlustrasi kota dengan udara yang tercemar. (Thinkstock)

Penelitian baru menunjukkan udara kota yang tercemar bisa menjadi lebih berisiko mengancam kesehatan lebih dari yang kita duga, karena mengandung jejak bakteri yang kebal terhadap antibiotik.

Para ilmuwan sekarang memperingatkan bahwa asap di daerah perkotaan mungkin menyebarkan materi genetik yang membuat virus tidak dapat diobati. Pada tahap ini, tidak jelas seberapa besar kerusakan yang terjadi di kota-kota paling tercemar di dunia.

Tim peneliti dari University of Gothenburg di Swedia menganalisis 864 sampel DNA yang diambil dari manusia, hewan dan lingkungan di seluruh dunia, untuk mencari gen yang terkait dengan bakteri kebal antibiotik.

Hasilnya menunjukkan bahwa sampel yang diambil di Ibukota Tiongkok, Beijing—yang tingkat pencemaran udaranya cukup tinggi—memiliki tingkat gen kebal antibiotik (ARGs) yang tinggi.

“Kami hanya mempelajari sejumlah kecil sampel udara, jadi untuk menggeneralisasinya, kami harus menguji udara dari lebih banyak tempat,” ujar pemimpin tim peneliti, Joakim Larsson.

“Tapi sampel udara yang telah kami analisis menunjukkan campuran luas gen kebal antibiotik yang berbeda,” tambahnya.

Penelitian ini tidak menunjukkan apakah bakteri pada asap Beijing hidup, tetapi Larsson mengatakan bahwa jika berdasar pada pengalaman studi sebelumnya, sangat beralasan untuk meyakini bahwa ada campuran antara bakteri yang hidup dan mati dalam asap tersebut.

Ketika kita mengobati penyakit dengan antibiotik, bakteri dan virus memodifikasi diri menjadi kebal terhadap antibiotik, membentuk mikroorganisme baru yang dikenal sebagai superbug.

Saat ini, bakteri berevolusi lebih cepat dibanding perkembangan antibiotik. Jika kita tidak bisa lagi menggunakan antibiotik dalam pengobatan, maka infeksi biasa bisa jadi sangat berbahaya dan berakibat fatal. Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk memahami lebih lanjut tentang cara penyebarannya, dan mengetahui cara alternatif untuk melawan superbug.

(Lutfi Fauziah. Sumber: David Nield/Science Alert)

KOMENTAR