Ternyata Emosi Manusia Pengaruhi Struktur Air Mata

Ternyata Emosi Manusia Pengaruhi Struktur Air Mata

Kepribadian manusia ternyata akan mampu terlihat dari bentuk struktur air mata jika dilihat dari bawah mikroskop.

Ternyata Emosi Manusia Pengaruhi Struktur Air MataIlustrasi (Thinkstock)

Mikkers adalah seorang teknisi laboratorium sebelum akhirnya ia mengambil pendidikan seni. Ia lah yang menemukan bagaimana sebenarnya air mata itu terlihat. Ia juga melakukan investigasi bagaimana suhu hingga penyebab tangisan tersebut, mampu mempengaruhi struktur air mata.

“Bagian gelap mikroskop akan menerangi air mata pada latar belakang berwarna hitam, sehingga Anda akan dapat melihat betapa cantiknya pola dan bentuk yang ada di sana,” ujar Mikkers. “Saya pikir air mata tidak cukup diteliti, sehingga kita perlu mengungkapkannya,” lanjutnya.

Ada tiga jenis utama air mata: air mata dasar, yang menjaga mata kita untuk tidak kering, air mata karena iritasi, dan air mata emosional.

Mikkers ingin melihat bagaimana air mata yang keluar disebabkan oleh film sedih mampu membawa perbedaan pada sturktur air mata yang diakibatkan oleh jari kaki yang terantuk batu.

Namun dari yang diketahui oleh Mikkers, air mata emosional memiliki tiga bahan tambahan: hormon stress prolactin, hormon adrenocorticotropic, dan pembunuh rasa sakit leucine enkephalin.

Kepribadian kita juga ternyata akan mampu terlihat dari bentuk air mata kita di bawah lensa mikroskop.

Mikkers mulai mengumpulkan berbagai macam air mata. Air mata itu kemudian akan diletakan di atas layar mikroskopik. Kristalisasi air mata akan memakan waktu antara 5 hingga 30 menit tergantung lingkungan.

Sejauh ini, masih sedikit penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses kristalilasi air mata, namun Mikkers terus melakukan investigasi untuk menghasilkan karya seni dari air mata itu.

Ahli biomedikal Naomi Chayen dari University of London berpikir bahwa teknik analisis lanjutan ini akan membawa kita untuk lebih memahami apa yang membuat air mata memiliki bentuk yang berbeda-beda.

(Annisa Hardjanti. Sumber: David Nield/Science Alert)

KOMENTAR