Minat Riset Remaja Pengaruhi Posisi Indonesia Kedepan

Minat Riset Remaja Pengaruhi Posisi Indonesia Kedepan

LKIR dan NYIA 2016 kembali digelar guna membina minat remaja pada kegiatan riset sejak dini dan membentuk posisi Indonesia di masa depan.

Minat Riset Remaja Pengaruhi Posisi Indonesia KedepanPembukaan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dan National Young Inventor Award (NYIA) 2016 di LIPI Pusat, Jakarta, pada Senin (26/09/2016). (Annisa Hardjanti/National Geographic Indonesia)

Lomba Karya Ilmiah Kerja (LKIR) dan National Young Inventor Awards (NYIA) tak hanya dilihat dari hasil, melainkan juga proposal dari karya yang akan dibuat. Hal itu yang disampaikan oleh Dr. Tri Nuke Pudjiastuti selaku Ketua Dewan Juri LKIR LIPI dalam pembukaan LKIR ke-48 dan NYIA ke-9 di LIPI Pusat, Jakarta pada Senin (26/09/2016).

Nuke sendiri mengungkapkan bahwa tahun ini, antusiasme remaja Indonesia dalam kompetisi ilmiah ini mengalami lonjakan. Terdapat 53 proposal terpilih dari 3.203 proposal yang mendaftar kompetisi tersebut.

“Hal tersebut membuktikan bahwa kesadaran dan minat penelitian generasi muda sudah semakin berkembang,” ujarnya. Jika dibandingkan saat ini, tahun 2015 lalu terdapat 2.041 proposal yang mendaftar dalam ajang LKIR.

Selain LKIR, NYIA turut meramaikan kompetisi ilmiah yang diadakan LIPI tahun ini. Sebanyak 29 invensi terpilih dari 868 karya usulan dari pelajar di seluruh Indonesia. “Pemilihan proposal karya ilmiah terbimbing dan juga invensi para pelajar semakin selektif,” kata Nuke menanggapi jumlah proposal yang masuk tersebut.

Bekerja sama dengan Britih Council melalui program Newton Fund, LIPI memiliki maksud tersendiri dibalik diadakan ajang kompetisi ilmiah itu. Seperti yang disampaikan oleh Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain, bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat akan menjadi tantang tersendiri bagi generasi muda.

“Generasi muda adalah asset bangsa dan harus terus dibina sebagai salah satu upaya membentuk posisi Indonesia di masa depan dan mendorong percepatan inovasi,” jelasnya.  Ia berharap lewat kompetisi ini, banyak remaja yang akan mampu memiliki scientific minded, scientific curiosity, dan scientific approach.

Tak hanya LIPI. British Council sendiri  melihat bahwa para peneliti remaja di Indonesia berpotensi besar dalam membawa perubahan bagi lingkungan yang ada di sekitarnya. Deputi Direktur British Council Indonesia, Ian Robinson, menegaskan bahwa bentuk kerja sama yang mereka lakukan dengan LIPI  adalah bagian dari upaya pengembangan budaya riset ilmiah di tengah remaja Indonesia.

“Mereka (pelajar) adalah generasi unggul yang mau dan mampu berpikir jauh ke depan dalam pemanfaatan iptek untuk berkontribusi langsung terhadap masyarakat,” ujar Ian.

Kompetisi ilmiah ini akan diselenggarakan pada 26 dan 27 September 2016, dengan memamerkan 53 karya ilmiah finalis LKR bidang hayati, teknik kebumian dan maritim, dan sosial kemanusiaan. Untuk NYIA sendiri, terdapat 29 invensi finalis yang turut serta dalam ajang tersebut.

Para pemenang kompetisi itu nanti akan berlanjut mengikuti sejumlah ajang internasional lainnya di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Thailand. 

(Annisa Hardjanti)

KOMENTAR