Psikopat dan Narsis, Apa Bedanya?

Psikopat dan Narsis, Apa Bedanya?

Psikopat dan orang narsis memiliki kesamaan umum: nyaris tak memiliki empati. Lantas, apa yang membedakan keduanya?

Psikopat dan Narsis, Apa Bedanya?Psikopat ibarat predator yang bekerja dalam diam. Mereka cenderung memusuhi, memanipulasi atau memperlakukan orang lain dengan kasar dan tidak berperasaan. (Thinkstock)

“Psikopat” dan “narsis”. Kedua kata ini sering digunakan bergantian dalam percakapan sehari-hari. Sering kali, seseorang dengan mudah dijuluki sebagai psikopat atau narsis.

Belakangan istilah psikopat dan narsis juga muncul di beberapa pemberitaan berkaitan dengan kasus-kasus pembunuhan di Indonesia. Apa sebenarnya perbedaan antara psikopat dan narsis?

Sulit untuk mengidentifikasi seseorang sebagai psikopat melalui pengamatan sepintas. Mereka tampak seperti orang normal lainnya. Meski demikian, kenormalan itu hanyalah topeng belaka, psikopat tidak memiliki rasa empati dan hati nurani.

Psikopat ibarat predator yang bekerja dalam diam. Mereka cenderung memusuhi, memanipulasi atau memperlakukan orang lain dengan kasar dan tidak berperasaan. Mereka mungkin sering melanggar hukum, namun mereka tidak menunjukkan bersalah atau menyesal.

Mereka sering berbohong, berperilaku kasar atau impulsif. Psikopat tidak takut siapa pun, memiliki tingkat kepercayaan diri yang luar biasa dan  kecerdasan di atas rata-rata.

Psikopat dan orang narsis memiliki kesamaan umum: keduanya minim empati.

Sedangkan orang yang memiliki gangguan kepribadian narsistik memiliki dorongan untuk menjadi pusat perhatian, melalui pujaan di lingkungan sekitar. Adanya admirasi, pemujaan, penerimaan, kekaguman, menjadi kebutuhan orang dengan kepribadian narsistik.

Orang narsis percaya bahwa diri mereka berhak atas hak-hak istimewa dan berada di tempat tertinggi.

Meski di luarnya orang narsis tampak memiliki harga diri tinggi, namun yang terjadi di dalam justru sebaliknya. Itulah sebabnya mereka berusaha memakai “topeng” untuk menutupi kelemahan mereka.

Orang dengan gangguan kepribadian narsistik bisa menjadi agresif. Mereka juga sering menggunakan kebohongan-kebohongan rumit dalam percakapan dengan orang lain demi kepuasan pribadinya. Berbeda dengan para psikopat, penderita narsistik sering menampilkan emosi. Hal ini menunjukkan bahwa seorang narsistik dapat menderita akibat penghinaan, sementara psikopat tidak.

(Lutfi Fauziah/Sumber: www.medicaldaily.com, nationalgeographic.co.id)

KOMENTAR