Penerbangan 'First Class' Hasilkan Lebih Banyak Polusi
2016 / Agustus / 18   11:00

Penerbangan 'First Class' Hasilkan Lebih Banyak Polusi

Kabin 'First Class' dalam penerbangan internasional tak hanya berat bagi dompet Anda, namun juga berdampak perubahan iklim.

Penerbangan 'First Class' Hasilkan Lebih Banyak PolusiIlustrasi kabin pesawat (Thinkstock)

Kabin kelas utama dalam penerbangan internasional tak hanya berat untuk dompet Anda, namun juga berdampak perubahan iklim.

Mereka mengambil ruang yang lebih banyak, hanya mempersilakan beberapa penumpang saja dalam setiap penerbangannya, sehingga kelas bisnis dan utama memiliki jejak karbon yang teralu besar.

Pesawat yang terbang dengan lebih tiket premium tahun 2014 memiliki efisensi bahan bakar yang buruk, berdasarkan peringkat yang ada pada International Council on Clean Transportation, sebuah kelompok non-profit yang pernah melakukan penelitian mengenai skandal emisi Volkswagen.

Diskusi dalam sidang PBB terkait iklim yang dilakukan di Paris beberapa waktu lalu, penerbangan menjadi bagian dari diskusi tersebut. Emisi pemanasan planet oleh karbon dioksida akan meningkat tiga kali lipat di tahun 2050, dan mereka akan menghadapi peningkatan tekanan untuk menghentikan polusi yang bersumber dari industri kendaraan dan efek rumah kaca.

Peringkat terbaru mengabarkan sebuah cerita dramatis. ICCT menemukan bahwa Norwegian Air 51 persen lebih efisien dalam hal emisi dibandingkan British Air.

"Ini mengejutkan kami,"ujar Dan Rutherford, direktur program untuk kelautan dan penerbangan, yang turut menulis laporan. "Terdapat efek penggabungan, dimana penerbangan dengan pesawat yang lebih efisien memiliki kinerja operasional yang lebih efisien."

Tim memperkirakan adanya batas kecil. Sebelumnya, melihat penerbangan domestik Amerika Serikat, mereka menemukan 25 persen perbedaan antara penerbangan dengan efisiensi bahan bakar terbaik dan terburuk. Norwegian Air menempati posisi pertama , diikuti Airberlin dan Aer Lingus. Dari tiga terbawah terdapat British Airways, SAS, dan Lufthansa.

Dua faktor utama yang menggiring nilai efisiensi bahan bakar penerbangan adalah: konfigurasi tempat duduk (sebanyak apa kursi premium), dan juga jenis dari pesawat. Norgwegian contohnya, hanya memiliki armada hemat bahan bakar dan hanya beberapa kursi penerbangan kelas bisnis dan utama.

Kursi premium hanya memberikan sepertiga polusi karbon. Penelitian tahun 2013 menemukan bahwa jejak karbon penumpang kelas utama mampu menjadi empat kali lebih besar, tergantung jenis pesawat dan banyaknya orang di kabin.

Dimanapun Anda duduk, penerbangan melintasi Atlantik secara signifikan memberikan jejak karbon Anda. Perjalanan penuh sebuah penerbangan rata-rata menghasilkan satu metrik ton karbon tiap penumpangnya, sama dengan berkendara 22 mil setiap hari.

Industri penerbangan mulai memperhatikan hal tersebut, dan mulai bergerak lebih efisien. "Penerbangan Amerika Serikat telah meningkatkan efisiensi bahan bakar hingga 120 persen sejak tahun 1978," ujar Melanie Hilton, juru bicara dari grup perdagangan Airlines for America. Ia menunjuk desain fitur pesawat seperti sayap, software routing, bahan bakar alternatif, dan perhitungan lainnya yang mampu membantu industri untuk mengoperasikan penerbangan yang lebih bersih.

Penerbangan tentunya memiliki dana insentif untuk menghemat bahan bakar. Namun dengan harga minya yang relatif rendah, dan perjalanan via udara meningkat secara keseluruhan, ICCT berdalam bahwa hukum yang lebih kuat akan mendorong penerbangan untuk lebih efisien dan mulai mengembangkan teknologi hemat bahan bakar yang baru.

Penerbangan dalam Eropa telah menjadi subjek batas karbon di bawah sistem Persekutuan Eropa. Saat ini, U.S. Enviromental Protection Agency melakukan evaluasi peraturan baru untuk industri penerbangan.

(Annisa Hardjanti / sumber: Christina Nunez / National Geographic)

KOMENTAR