Nostalgia Ambarawa
2016 / Agustus / 12   12:57

Nostalgia Ambarawa

Kehijauan tanah Jawa sejauh memandang dari balik lokomotif B2502.

Nostalgia AmbarawaPenumpang di dalam Kereta Wisata Ambarawa, Jawa Tengah (KOMPAS.com/FITRI PRAWITASARI)

Pesona laju kereta membelah petak-petak persawahan menghijau berlatarbelakang gunung, jalan raya yang meliuk-liuk saat dipandangi dari tanjakan serta stasiun kecil di mana anak-anak desa bermain bola merupakan suguhan dari Museum Kereta Api Ambarawa.

Makin istimewa, karena dinikmati di atas gerbong kayu yang digunakan di atas gerbong kayu yang digunakan perdana pada 14 September 1907. Zaman di mana para ambtenaar dan pegawai ondernemin-para pria asing dan pribumi mengenakan safari putih bertopi atau mengenakan beskap dipadu blangkon. Di tambah penumpang noni dan sinyo Belanda yang ingin tetirah ke luar kota.

Gerbong kayu usia tua itu mengalami perbaikan pada 30 Juni 1973. Digandengkan ke lokomotif uap B2502 atau B2503 buatan Jerman dan Belanda, yang beroperasi dengan bahan bakar kayu.

"Yang dibutuhkan pangkap pohon jati. Karena padat dan keras, otomatis api menyala lebih lama," papar Rudianto dari Koperasi dan Layanan Museum Kereta Api Ambarawa. "Bila diganti kayu dari pohon karet atau sengon tidak bisa.'

Sebuah perjalanan antaramasa hadir melintasi stasiun Jambu - Ngampin - Bedono dalam waktu 1,5 jam. Ditambah atraksi menarik saat lokomotif uap dipindahkan ke bagian belakang gerbong agar dapat mendorongnya melintasi jejaring rel bergerigi di area perbukitan.

Tuntas sudah keinginan mencicipi wisata kereta yang kerap diperbincangkan dan dicari pelancong, termasuk dari mancangeara. Sebuah perjalanan nostalgia di antara jendela-jendela kayu tanpa kaca.

Untuk menikmati sisi nostalgis sang kereta melintas keasrian tanah Ambarawa di kaki pegunungan Jawa Tengah arah Ungaran dan Bawen, biasanya peminat mengontak pihak museum lebih dulu, untungnya saya berjumpa dengan satu keluarga besar yang mengajak berbagi sewa kereta. Dari biaya berbilang juta, saya cukup membawa Rp50,000.

Tak sampai setengah jam, lokomotif oun mengepulkan asap dan petualangan dimulai. Jok kayu cokelat, atap dicat kekuningan dengan hiasan ukiran raksasa pada bagian atas pintu. Duduk nyaman disuguhi lansekap alam, diseling keramaian anak-anak yang berebutan berdiri di samping jendela.

Sebuah stasiun kecil Bedono menjadi destinasi kereta wisata Ambarawa sejenak sembari minum teh dari termos serta pisang rebus yang dibawa dari stasiun Koening Willem I, nama sejati dari Stasiun Ambarawa, saat dibangun oleh Belanda pada 1873.

Dan tibalah saat bertolak kembali. Posisi lokomotif diubah ke belakang gerbong pada sekitar sepertiga perjalanan pulang. Berdiri dekat sambungan gerbong seraya menatap B2502, terasa sebuah kegagahan sosok lokomotif tua buatan tahun 1903.

selain wisata kereta, Stasiun Koening Wilem i menarik dieksplorasi. Sebuah bangunan nostalgis yang tetap terpelihara apik. Termasuk kelengkapan peranti pendukung mulai jam dinding tua, ruang kontrol sampai bangku-bangku panjang dan meja kayu sebagau saksi bisu kemegahan stasiun ini di masa lalu.

Ada lebih dari selusin lokomotif tua buatan 1891-1928 di parkir di halaman. Termasuk E1060, lokomotif uap produksi Esslingen Maschinenfabrik, Jerman. Dikenal dengan sebutan Mak Itam dan kini sudah kembali ke kampung halamannya di Sawahlunto, Sumatra Barat.

Para pengunjung beringsut surut. Tapi saya masih belum beranjang. Menikmati sate dalam pincuk daun pisang. Aromanya sungguh mengantar saya pada kekinian.

(Manggalani R. Ukirsari / National Geographic Traveler)

KOMENTAR