2016 / Agustus / 11   17:18

Manusia Merambah Hutan, Gajah Sumatra Hengkang

Pengalungan GPS pada gajah rupanya turut mengungkap fenomena adanya pergerakan kelompok gajah Tesso Nilo yang terfokus di luar Taman Nasional.

Manusia Merambah Hutan, Gajah Sumatra HengkangIlustrasi gajah sumatra (Leo Lintang/Thinkstock)

Pengalungan GPS pada gajah rupanya turut mengungkap fenomena lain yang terjadi pada satwa bertubuh besar tersebut. Ditemukan adanya pergerakan kelompok gajah Tesso Nilo yang terfokus di luar Taman Nasional, yakni kawasan Hutan Tanaman Industri.

Dalam  Seminar Teknik Molekuler untuk Studi Ekologi, Mitigasi Konflik, dan Mengungkap Perdagangan Ilegal Satwa Liar di Lembaga Eijkman, Jakarta Pusat pada Kamis (11/08/2016) lalu, Ekolog Satwa Liar WWF-Indonesia, Sunarto mengungkapkan bahwa pergerakan tersebut disebabkan tingginya aktivitas perambahan oleh manusia dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.

"Komoditas kopi berdampak pada habitat gajah. Lalu pembangungan perkebunan kelapa sawit, penanaman pohon akasia yang mulai dikonsumsi oleh para gajah untuk tetap bertahan hidup. Beruntung gajah mampu beradaptasi," ujar Sunarto.

Diketahui banyak gajah sumatra yang kini berada di luar kawasan lindung. Mereka bahkan sampai merambah ke lahan perkebunan bahkan pemukiman, seperti yang disampaikan oleh drh. Dedi Chandra dari Pusat Konservasi Gajah Way Kambas.

"Kami mencoba memaksimalkan kontribusi lembaga konservasi ex-situ untuk mendukung konservasi gajah di habitatnya, atau in'situ, dan berupaya keras memperbaiki teknik perawatn dan pengelolaan gajah di Pusat Konservasi Gajah," jelasnya.

Dedi sendiri mengakui bahwa PKG takkan mampu terus menampung gajah dari alam liar. Biaya perawatan yang besar hingga ancaman pada kondisi gajah di alam menjadi masalah yang akan dihadapi jika penampungan gajah dilakukan berkepanjangan.

Menurut Sunarto, pelestarian gajah juga turut menjadi tanggung jawab dari perusahaan perkebunan. WWF bekerjasama dengan sejumlah perusahaan sudah mengembangkan teknik pengelolaan perkebunan dan hutan tanaman untuk mendukung perlindungan satwa seperti gajah.

"Jalur jelajah konvensional gajah saat ini banyak bersinggungan atau bahkan sepenuhnya berada di wilayah hutan tanaman, perkebunan, dan bahkan kampung atau kota. Gajah jadi terpaksa makan umbut sawit muda dan kulit kayu akasia," ujarnya.

Seminar ini adalah bagian dari perayaan Hari Gajah Sedunia 2016. Selain Sunarto, sejumlah pembicara ahli turut hadir memberikan presentasi terkait konservasi gajah ini seperti Prof. dr. Herawati Sudoyo dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, drh. Dedi Chandra dari Pusat Konservasi Gajah Way Kambas, serta musisi Tulus yang turut mengkampanyekan aksi #janganbunuhgajah.

(Annisa Hardjanti)

KOMENTAR