Ahli Bedah Peru Kuno Lubangi Tengkorak Pasien untuk Selamatkan Nyawanya
2016 / Agustus / 4   11:58

Ahli Bedah Peru Kuno Lubangi Tengkorak Pasien untuk Selamatkan Nyawanya

Tindakan melubangi kepala yang dikenal dengan istilah trepanasi, berhasil menyelamatkan banyak nyawa pada masa itu.

Ahli Bedah Peru Kuno Lubangi Tengkorak Pasien untuk Selamatkan NyawanyaTengkorak dengan bekas trepanasi ini milik seorang pemuda yang hidup antara tahun 3500 dan 3400 SM. (Prisma, UIG/Getty via nationalgeographic.com)

Sekitar 2.000 tahun lalu, ahli bedah Peru mengikis lubang di tengkorak manusia hidup dengan menggunakan peralatan sederhana. Sebelum praktek operasi itu berakhir, banyak tengkorak bagian atas pasien yang retak, berhasil disingkirkan tanpa bantuan anestesi modern maupun teknik steril.

Pasien itu, luar biasa, mampu bertahan hidup.

Operasi mengerikan tersebut merupakan salah satu contoh trepanasi, praktek medis kuno berupa tindakan melubangi tulang kepala yang dilakukan pada pasien dengan cedera kepala berat. 

Ribuan tahun lalu, para ahli bedah melakukan trepanasi pada pasien-pasien di Eropa awal dan Pasifik Selatan. Trepanasi bahkan masih dipraktekkan di Afrika Timur hingga tahun 1990-an. Tetapi, prosedur tersebut mencapai puncaknya di Peru pada abad ke 14-16 Masehi, dilihat dari banyaknya jumlah tengkorak dengan bekas-bekas trepanasi yang ditemukan di daerah tersebut.

“Itu karena bangsa Peru saling melemparkan batu atau mengayunkan tongkat ketika perang. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan retak pada tengkorak kepala,” ujar antropolog fisik John Verano dari Tulane University.

Ahli bedah Peru melakukan prosedur dramatis semacam trepanasi bukan tanpa alasan. Pada masa itu, trepanasi dilakukan untuk membersihkan tengkorak yang retak akibat terkena pukulan atau lemparan batu. Fragmen-fragmen tengkorak yang retak bisa saja mati dan tak lagi dapat berkembang. Para ahli bedah telah belajar dari pengalaman-pengalaman mereka, bahwa teknik trepanasi dapat menyelamatkan nyawa pasien.

“Kami punya bukti melimpah bahwa trepanasi bukan dilakukan untuk aktivitas ritual, melainkan murni prosedur penyelamatan pasien dengan cedera kepala berat, khususnya tengkorak yang retak,” ungkap Verano.

Alat yang digunakan untuk ...Alat yang digunakan untuk melakukan trepanasi pada abad ke-11 hingga 6 Sebelum Masehi. (Markus Matzel/Ullstein Bild/Getty via nationalgeographic.com)

Sebagian orang mungkin merasa ngilu ketika membayangkan alat seperti gambar di atas menembus kulit kepala dan mulai mengikis tengkorak tanpa anestesi. Ada banyak saraf di kulit kepala kita. Jika Anda mencoba mengikis kulit kepala dengan menggunakan pisau atau silet, tentu hal itu akan menyakitkan. Akan tetapi, tengkorak kepala memiliki sangat sedikit saraf.

“Jadi jika ada ahli bedah yang mengatakan pada Anda, ‘Kami akan mengikis tengkorak Anda dan itu sama sekali tidak menyakitkan’, maka dia mengatakan hal yang sebenarnya,” tukas Verano.

Teknik trepanasi bukannya tanpa resiko. Dalam beberapa kesempatan, ahli-ahli bedah modern dari Barat telah mencoba teknik tersebut, namun seringkali pasien gagal diselamatkan akibat infeksi setelah operasi.

Menurut Verano, hal tersebut dikarenakan dokter modern hanya mencuci peralatan operasi dan menggunakannya kembali pada pasien lain. Selain itu, operasi juga dilakukan di rumah sakit. Di tempat itu, banyak orang mengalami infeksi bahkan jika dalam kondisi terbaiknya.

“Pada waktu lampau, di Peru tidak ada rumah sakit. Orang-orang mungkin dioperasi di ruang terbuka, dan mungkin menggunakan peralatan yang tak digunakan berkali-kali. Itulah sebabnya resiko infeksi menjadi lebih rendah,” jelasnya.

Selama beberapa dekade, Verano bersama rekan-rekannya memang telah meneliti tentang trepanasi pada lebih dari 800 tengkorak yang mengalami praktek tersebut. Ia menuangkan pandangannya tentang trepanasi dalam sebuah buku berjudul Holes in the Head: The Art and Archaeology of Trepanation in Ancient Peru.

Dengan mempelajari praktek trepanasi pada masa lampau, kita memang tak bisa melakukan teknik operasi serupa karena peralatan medis telah banyak berubah.

“Kita dapat mengesampingkan pikiran bahwa trepanasi merupakan praktek primitif, tetapi yang lebih penting ialah memahami bagaimana orang-orang terdahulu melakukan tindakan medis hingga mencapai prestasi luar biasa dalam hal tingkat kelangsungan hidup yang tinggi,” pungkas Verano.

(Lutfi Fauziah/news.nationalgeographic.com)

KOMENTAR