2016 / Juli / 31   21:03

Belitung, Tempat Waktu Berhenti di Masa Lalu

Saat super benua Pangea bergerak dan terpecah ratusan juta tahun lalu, proses penciptaan Belitung dimulai.

Belitung, Tempat Waktu Berhenti di Masa LaluBongkahan batu berukuran raksasa dikelilingi laut luas yang cemerlang, sudah menjadi ikon dari pariwisata Provinsi Bangka Belitung. Sebuah mercusuar tua peninggalan Belanda yang dibangun pada 1882 tampak masih kokoh berdiri di Pulau Lengkuas. Simak perjalanan mengunjungi Pulau Bangka dan Belitung di majalah National Geographic Traveler Indonesia edisi Mei 2016. (Reza Alatas)

Saat super benua Pangea bergerak dan terpecah ratusan juta tahun lalu, proses penciptaan Belitung dimulai. Kini, sisa pergerakan dan perpecahan daratan selama transisi triasik ke jurasik itu berwujud batu-batu raksasa yang antara lain tersebar di Pantai Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi.

Granit-granit itu bagian dari batolit, batuan beku yang menjadi dasar Indonesia barat. Timbul dan menyebar dari Senoa di tepi Laut Tiongkok Selatan hingga Tanjung Tinggi di tepi Selat Karimata, granit-granit itu berusia hingga 245 juta tahun.

Usia batu-batu di Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi hampir sama dengan umur fosil Nyasasaurus parringtoni (dinosaurus pertama di dunia). Fosil yang ditemukan di Tanzania itu dinyatakan berusia 240 juta tahun.

Granit di Belitung saat ini terdorong dari perut bumi melalui proses yang berlangsung jutaan tahun. Gempa berulang selama jutaan tahun memecahkan badan batuan granit di perut bumi itu dan mengangkatnya ke permukaan bumi.

Pecahan-pecahan itu yang kemudian diinjak Ikal dan kawan-kawannya dalam film Laskar Pelangi. Ribuan orang pun mengikuti jejak Ikal hingga kini.

Pelancong Kanada, Carol, misalnya, mengakui keindahan itu. Dari puncak mercusuar di Pulau Lengkuas, pulau kecil di depan Pantai Tanjung Kelayang, Carol tak henti-hentinya berdecak kagum dan memotret berbagai sisi pulau.

”Saya sering melihat pantai di mana-mana, tetapi ini luar biasa(incredible). Ini tidak ada di tempat lain. Saya tidak sengaja direkomendasikan oleh seorang Indonesia di Thailand dan saya sama sekali tidak kecewa. Ini seperti surga yang selama ini tidak diketahui orang. Lihat batu-batu itu,” katanya, pertengahan Juni lalu.

Masa lalu tidak hanya mewariskan granit kepada Belitung. Dari generasi ke generasi, orang Belitung mendengar cerita soal bajak laut atau lanun. Dari rumahnya di dekat Pantai Serdang, Belitung Timur, Sayuti Saleh menjejak dan mencatat para kerabat lanun di Pulau Belitung.

Sayuti mengaku sebagai keturunan ketujuh dari lanun yang pernah bermarkas di Air Saga, kawasan di pinggiran Tanjung Pandan, Belitung.

Dari banyak versi, ada yang menyebut para lanun itu adalah prajurit laut untuk Sriwijaya. Mereka menavigasi kapal-kapal yang membayar pajak ke Sriwijaya. Kapal yang tidak membayar pajak akan diserang, lalu karam di perairan Belitung. Ada pula yang karam karena penyebab lain.

Arkeolog Belitung, Alwan Hadi, menyebut, hingga kini sudah diidentifikasi paling tidak 10 lokasi barang muatan kapal tenggelam (BMKT) di pesisir Belitung. Ada banyak lokasi BMKT lain yang belum diidentifikasi.

Di lokasi yang sudah terdata ditemukan artefak berusia lebih dari satu milenium. ”Sebagian lokasi sudah didorong menjadi tempat menyelam,” ujarnya.

Para prajurit laut Sriwijaya itu disebut sejarawan AB Lapian sebagai orang Sekak, salah satu kelompok masyarakat yang dicatat sebagai suku terasing di Indonesia.

Orang-orang Sekak mendiami Belitung jauh sebelum orang-orang Melayu dan suku-suku lain datang. Sampai sekarang, suku yang jumlahnya semakin sedikit itu masih mencari penghasilan dari laut.

KOMENTAR