Merayakan Keberagaman di Ngayogjazz 2015
2015 / November / 20   13:00

Merayakan Keberagaman di Ngayogjazz 2015

Perhelatan musik jazz tahunan ini kembali diadakan dengan mengusung tema Bhinneka Tunggal Jazznya di Desa Pendowoharjo, Yogyakarta tanggal 21 Nopember 2015.

Merayakan Keberagaman di Ngayogjazz 2015Jaduk Ferianto saat memberikan keterangan pers di Hotel Alana, Yogyakarta, Kamis (19/11) terkait pelaksanaan Ngayogjazz 2015. Perhelatan musik jazz tahunan ini kembali diadakan dengan mengusung tema Bhinneka Tunggal Jazznya di Desa Pendowoharjo, Yogyakarta pada Sabtu 21 November 2015. (Dwi Oblo/National Geographic Indonesia)

Perhelatan Ngayogjazz 2015 kembali hadir untuk memuaskan para penggemar musik jazz. Acara tahunan yang digagas oleh sekelompok anak muda penggemar dan pelaku musik di Yogyakarta sejak sembilan tahun lalu ini akan dilaksanakan di Desa Pendowoharjo, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 21 Nopember 2015. 

Desa Pendowoharjo sengaja dipilih sebagai lokasi acara karena desa ini memiliki beragam kesenian tradisional mulai dari ketoprak, karawitan, mocopatan, wayang kulit, jatilan dan beragam kesenian yang tentunya akan memuaskan para pengunjung. Menurut Kepala Desa Pendowoharjo, Catur Sarjumiharta, yang datang saat konferensi Pers mengatakan, "Merupakan anugerah bagi desa ini untuk ketiga kalinya menjadi tempat diselenggarakannya Ngayogjazz. Dua kali di Dusun Brayut, saat Ngayogjazz ke enam dan ke delapan, sekarang giliran Dusun Karang Tanjung dan Karang Kepuh untuk Ngayogjazz yang ke sembilan." ungkap Catur. Acara Ngayogjazz sangat bagus untuk implementasi Industri Kreatif. Antusiasme warga juga terasa dengan dilibatkannya para warga dalam kegiatan ini. Warga bergotong royong bersama panitia untuk menentukan dan mendirikan panggung, mengurus parkir, kuliner, dan segala macam hal lainnya terkait penyelenggaraan Ngayogjazz. Satu dari enam panggung yang dibuat akan diisi kesenian desa setempat.

 

(Dari kiri ke kanan) Trie ...(Dari kiri ke kanan) Trie Utami, Jaduk Ferianto, kepala desa Pendowoharjo Catur Sarjumiharja, Arsitek Eko Prawoto, saat memberikan keterangan di depan wartawan mengenai pelaksanaan Ngayogjazz 2015, di Hotel Alana, Yogyakarta, Kamis (19/11). (Dwi Oblo/National Geographic Indonesia)

Secara konsisten Ngayogjazz memilih tempat pertunjukan yang dekat dengan alam. Untuk penilaian layak atau tidaknya sebuah desa untuk ajang perhelatan Ngayogjazz, Eko Purwanto yang juga seorang arsitek bertindak sebagai kurator. Rutinitas kota yang menjebak kita untuk bergerak cepat dapat dinetralisir dengan mengunjungi desa, dan menikmatinya. Orang-orang bisa berbagi pengalaman untuk melihat lebih detail, lebih pelan, dan menyadari hakekat kemanusiaan kita. Demikianlah kenapa dalam penyelenggaraan Ngayogjazz dipilih tempat-tempat yang dekat dengan alam sehingga ruang, waktu dan makna tercapai.

Menurut salah satu penggagas acara ini, Jaduk Ferianto, Ngayogjazz pada tahun ini akan mengambil semboyan Bhinneka Tunggal Jazznya yang diambil dari semboyan Negara kita, yang dipelesetkan kata-katanya tanpa mengurangi maknanya. "Pelesetan selalu dipakai untuk semboyan pada acara ini dan juga acara sebelumnya. Pelesetan ini terinspirasi dari tokoh pelawak Yogyakarta Alm. Basiyo dengan gaya dagelan Mataramnya. Basiyo menjungkir balikkan kata-kata dan logika, sehingga menjadi ciri khas. Pada awal Ngayogjazz pada tahun 2007, semboyan yang digunakan yakni Iki Jaman Ngejazz, nek ora nge Jazz ora kedumjazz yang diambil dari idiom Jawa, Ini jaman edan kalau tidak ngedan tidak keduman (tidak mendapatkan). Pernah juga pada tahun 2011 dengan semboyan Mangan ora mangan nge Jazz yang diambil dari Idiom Jawa Mangan Ra Mangan Ngumpul atau makan tidak makan berkumpul untuk bermusik jazz.

"Kita berkawan dengan seorang akademisi sosiologi dari UII, Dr. Faturohman untuk merusmuskan semboyan Ngayogjazz tahun ini. Intinya Ngayogjazz 2015 merupakan ajang pemusik untuk merayakan keberagaman baik dari segi musik, genre, orang-orang yang bermusik dan masyarakat pendukungnya. Hal ini untuk mensikapi adanya  kecenderungan pemerintah yang mau menyeragamkan. Dari segi bermusik, meskipun beragam musisinya, gaya bermainnya, namun saat dimainkan bersamaan, bisa menjadi satu spirit yang memunculkan harmonisasi yang indah," tambah Jaduk.

Menurut sejarahnya Jazz lahir dari para musisi bukan dari kalangan atas, tetapi dari kalangan bawah, mereka belajar, berkolaborasi dengan masyarakat lokal sehingga memuncul spirit. Spirit itu yang akan selalu dipakai dalam penyelenggaraan Ngayogjazz. Sehingga diharapkan ada kesadaran para musisi, tentang keharusan belajar dengan masyarakat pendukungnya. "Kalau hanya memainkan repertoar sebagai peniru kok rasanya kurang afdal. Musisi belajar kembali tidak hanya belajar pada repertoar tetapi belajar kehidupan dengan masyarakat pendukungnya saat bermusik."

 

Trie Utami Jaduk Ferianto saat ...Trie Utami saat memberikan keterangan pers di Hotel Alana, Yogyakarta, Kamis (19/11) terkait pelaksanaan Ngayogjazz 2015. Perhelatan musik jazz tahunan ini kembali diadakan dengan mengusung tema Bhinneka Tunggal Jazznya di Desa Pendowoharjo, Yogyakarta pada Sabtu 21 November 2015.  (Dwi Oblo/National Geographic Indonesia)

Penyayi kawakan Trie Utami yang kebetulan satu meja saat konferensi pers juga menimpali, "Semangat jazz adalah sebuah produk yang dibawa dan diisi oleh siapa saja. Kalau kita melihat musik pop adalah lukisan dengan bingkainya, maka musik jazz seperti melihat pemandangan yang batas pandangnya mata kita sendiri. Demikian terbuka luas, memperbolehkan semua orang untuk masuk di ruang improvisasi".

Ngayogjazz tahun ini akan diisi oleh musisi-musisi seperti : Trie Utami dan Kuaetnika, Indro Harjodikoro and Friends, Esqi:EF, Juri Jo Collective, Ina Ladies, Nita Aartsen, Three Song, Dexter Band dan Panjul, Yuri and Ganggeng, Hariono and Friends, serta komunitas-komunitas Jazz Nusantara. Musisi ini akan bermain di lima panggung berbeda dari pukul 10.00 - 22.00.

Untuk informasi lanjut mengenai acara Ngayogjazz bisa dilihat di laman www.ngayogjazz.com.

(Dwi Oblo/National Geographic Indonesia)

KOMENTAR