Jejak Pembauran Melanesia dan Austronesia

Jejak Pembauran Melanesia dan Austronesia

Genetika manusia Indonesia adalah produk campuran dua atau lebih populasi moyang.

Jejak Pembauran Melanesia dan AustronesiaErik Rumfabe, asal Manokwari, Papua Barat, bersiap mementaskan tarian tradisi sukunya di Festival Budaya Melanesia. (National Geographic Indonesia/Mahandis Y. Thamrin)

Secara klasik, manusia Indonesia biasanya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu penutur Austronesia dan penutur Papua. Pengelompokan ini terutama didasarkan pada perbedaan bahasa dan kebudayaan selain ciri fisik. Namun, hasil penelitian terbaru, pembauran budaya dan genetika di antara dua penutur ini sejak perjumpaan ribuan tahun silam. 

Orang Melanesia memang berbeda," kata Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya, dalam pembukaan Konferensi Internasional Melanesia, di Kupang, akhir Oktober 2015. "Kulit kami hitam, rambut keriting kriwil-kriwil," ujarnya.

Bukan hanya ciri fisik, kebudayaan Melanesia juga khas, seperti tenun ikat, arsitektur, dan seni ukir. "Dari 22 kabupaten/kota di NTT, 11 di antaranya punya latar belakang budaya Melanesia," katanya.

Konferensi dihadiri 200 peserta dari negara yang tergabung dalam Melanesian Spearhead Group (MSG), seperti Fiji, Papua Niugini (PNG), Kepulauan Solomon, Timor Leste, Kaledonia Baru. Indonesia diwakili masyarakat lima provinsi: NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Istilah "melanesia" awalnya disematkan penjelajah Perancis, Jules Dumont d'Urville (1790-1842) tahun 1832 untuk menunjukkan populasi manusia yang mendiami ujung barat Lautan Pasifik. Secara lateral, kata ini berasal dari bahasa Yunani, Melano-nesos, 'nusa-hitam' atau 'kepulauan hitam', sehingga kerap dianggap sebagai sebuah klasifikasi yang rasial.

Jadi, Melanesia awalnya lebih mengacu pada zona geografis. Belakangan kerap dipakai menyebut populasi. Gugus kepulauan itu saat ini berimpit dengan teritori sejumlah negara, yang lalu terhimpun dalam MSG; Indonesia menjadi anggotanya sejak pertengahan 2015.

Secara sederhana, keberadaan "Melanesia" di Indonesia ada di kawasan timur. Sebagaimana disebut Alfred Russel Wallace (1823-1913), Kepulauan Nusantara dibelah batas geografis yang membedakan flora, fauna, dan manusia. "Ras Melayu mendiami hampir seluruh bagian barat kepulauan itu, sedangkan ras Papua mendiami New Guinea (Papua) dan beberapa pulau di dekatnya...," sebut Wallace pada buku The Malay Archipelago (1869).

Selain sebutan kelompok Melayu, yang dinilai tidak tepat menggambarkan populasi manusia Indonesia di bagian barat, istilah "ras" sendiri belakangan tak dipakai lagi. Pakar genetika populasi asal Italia, Luigi Luca Cavalli-Sforza (2000), membuktikan bahwa membagi manusia dalam "ras" adalah usaha keliru. Secara biologis, hanya ada satu ras manusia modern, yaitu Homo sapiens, walaupun kemudian tiap populasi mengembangkan kebudayaan. Bahkan, ciri fisik berbeda sebagai adaptasi terhadap lingkungan yang berbeda.

KOMENTAR