65% dari Limbah Elektronik Eropa Dicuri atau Salah Urus
2015 / September / 2   14:00

65% dari Limbah Elektronik Eropa Dicuri atau Salah Urus

Hilangnya komponen fungsional atau logam mulia membuat Uni Eropa kehilangan € 1.700.000.000 setiap tahun.

65% dari Limbah Elektronik Eropa Dicuri atau Salah UrusIlustrasi. (Andrew McConnell/Panos)

Sebuah penyelidikan selama dua tahun tentang limbah elektronik di Eropa menemukan bahwa sebagian besar limbah tersebut dicuri, salha urus, diperdagangkan secara ilegal, atau sekedar dibuang.

Uni Eropa memiliki panduan tentang bagaimana membuang elektronik yang tidak diinginkan dengan benar, seperti peralatan TI, peralatan rumah tangga, atau perangkat medis. Namun menurut sebuah laporan yang diterbitkan pada hari Minggu (31/8) oleh Universitas PBB dan Interpol, hanya 35% dari limbah elektronik yang dibuang dengan benar pada tahun 2012.

Sementara itu, penjahat melarikan diri dari Eropa dengan 1.3 juta ton peralatan tak berdokumen, seperti laptop, papan sirkuit, atau lemari es. Hilangnya komponen fungsional atau logam mulia membuat Uni Eropa kehilangan € 1.700.000.000 setiap tahun, ujar para peneliti.

Tambahan 4,7 juta ton elektronik yang salah urus atau diperdagangkan secara ilegal di Eropa sendiri. Itu berarti bahan-bahan beracun yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau kesehatan masyarakat, seperti timbal, kadmium, dan merkuti, tidak sedang dibuang dengan cara yang aman.


Para peneliti memiliki beberapa saran untuk menyelesaikan masalah. Salah satunya, untuk melembagakan larangan transaksi tunai dalam perdagangan besi tua, yang akan membantu pihak berwenang melacak di mana limbah pergi. Saran lain adalah untuk menciptakan gugus tugas nasional yang terdiri dari para pemangku kepentingan lokal yang berbeda, untuk penelitian masalah di daerah, menjalankan kampanye kesadaran konsumen, atau menegakkan hukuman bagi pelaku.

Pascal Leroy, sekretaris jenderal Waste of Electrical and Electronic Equipment Forum di Brussels, Belgia mengatakan, "Ada beberapa hal yang bisa dilakukan hanya dengan berbicara satu sama lain."

Andrew McConnell/Panos

(Ilham Bagus Prastiko/New Scientist)

KOMENTAR