Tsutomu Yamaguci, Orang yang Dihantam Dua Bom Atom, dan Selamat
2015 / Agustus / 14   16:00

Tsutomu Yamaguci, Orang yang Dihantam Dua Bom Atom, dan Selamat

Warga Jepang ini mengalami sendiri seperti apa rasanya terpajan oleh bom Hiroshima dan Nagasaki, dan hidup hingga usia 93 tahun.

Tsutomu Yamaguci, Orang yang Dihantam Dua Bom Atom, dan SelamatFoto awan bom atom Hiroshima ini ditemukan di Sekolah Dasar Honkawa pada 2013, diperkirakan diambil sekitar 30 menit setelah ledakan dalam jarak 10 kilometer di arah timur. (Honkawa Elementary School/Wikimedia Commons)

Tsutomu Yamaguchi, seorang karyawan Mitsubishi Heavy Industries perancang kapal tanker minyak, telah bertugas selama tiga bulan di Hiroshima pada Agustus 1945. Tepat pada tanggal enam, ia berencana untuk kembali ke rumahnya di Nagasaki.

Pada pukul 8.15, ia menyaksikan pesawat pengebom mengudara di atas kota. Sesaat kemudian ia merasakan sinar yang amat menyilaukan diiringi suara, angin, dan juga udara panas yang menghantam dan membuatnya terlempar ke ladang kentang tak jauh dari sana.

Berada sekitar tiga kilometer dari pusat ledakan bom atom, Tsutomu mengalami kebutaan sementara, luka bakar di tubuh bagian atas, serta kebocoran gendang telinga.

Setelah bermalam di sebuah tempat perlindungan bersama rekan-rekannya, ia pun pergi menuju stasiun, berenang melewati sungai penuh korban bom, dan melaju dengan kereta menuju rumahnya di Hiroshima.

Sesampainya di rumah, ia pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Pada tanggal sembilan Agustus, ia pun kembali bekerja dan sedang berbincang dengan atasan yang tak percaya mengenai keadaan yang dialaminya, saat ia mendengar sirine meraung.

Sekali lagi ia menyaksikan sinar yang membutakan matanya, dan langsung bertiarap. Tsutomu tak mengalami luka fisik tambahan dari ledakan ini. “Saya mengira awan jamur itu mengikuti saya dari Hiroshima,” ujarnya kepada koran The Independent.

Walaupun dua kali tarpajan radiasi nuklir dan pendengaran pada telinga kirinya terganggu, dua anaknya yang lahir setelah kejadian itu, hidup sehat. Sebelum meninggal dunia pada usia 93 tahun, ia menghabiskan sisa hidupnya dengan berkampanye di PBB mengenai pelucutan senjata nuklir bagi semua negara.

(Titania Febrianti. Sumber: Todayifoundout.com, history.com)

KOMENTAR