Salatiga, Lelakon Tinggalan Kota Garnisun di Pinggang Merbabu
2015 / Juli / 13   15:30

Salatiga, Lelakon Tinggalan Kota Garnisun di Pinggang Merbabu

Persinggahan yang kerap terlewat itu menawarkan keanggunan dan semangat pelestarian pusaka penanda identitas kota.

Salatiga, Lelakon Tinggalan Kota Garnisun di Pinggang MerbabuPemandangan Fort Hersteller berjudul "Het gezigt van Salatiga Leggende op het Eyland Groot Yaava Aan de Noord Oost Zyde". Sketsa oleh Johannes Rach, gambar diselesaikan oleh asistennya. Jalan menuju benteng digambarkan jalan utama dengan kesibukan masyarakat sekitarnya. Sebelah kiri tampak rumah penduduk, sedangkan sebelah kanan merupakan komplek rumah mewah untuk pejabat pemerintah dengan seorang penjaga berdiri di sudut jalan. (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia)

Keteplak...keteplok...keteplak...keteplok... Bagong, kuda penarik dokar yang saya tumpangi, meniti malam bergerimis di tangsi militer tua tanpa penerangan jalan. Veteran Ngeblok, demikian warga Kota Salatiga menjuluki seruas jalan itu lantaran dihuni para legiun pensiunan tentara. Sepinya malam membuat tengara sepatu Bagong kian membahana. Kalau boleh diumpamakan, perjalanan malam itu lebih mirip latar film horor Indonesia 1980-an.

Sejatinya kita bisa melancongi Salatiga dengan angkot, becak, dokaratau jalan kaki karena pusat kota tak terlampau luas. Namun, seiring matahari terbenam, angkot-angkot pun turut terbenam dari sudut-sudut kota. Yang perlu diingat, bahwa jalanan kota di pinggang Merbabu ini dihiasi tanjakan dan turunan, jadi pastikan kita menggunakan moda transportasi yang tepat. Pengalaman hari pertama, saya meluncur dengan becak yang tak terkendali di jalan menurun tengah kota!

Kota Salatiga. Jantung Kota Salatiga. (Seni: Fredy Susanto, Kartografi: Warsono, National Geographic Traveler, edisi Mei 2012.)

Perkembangan Salatiga tidak bisa dilepaskan dari peran sebagai kota garnisun pada pertengahan abad ke-18. Usai Geger Pacinan, Gubernur Jenderal VOC Gustaf Willem Baron von Imhof melakukan ekspedisi melancong perdananya ke Semarang-Ungaran-Salatiga-Surakarta. Langkah berikutnya, jalur logistik militer itu diamankan dengan menempatkan garnisun dan pertahanan benteng. Belakangan, keberadaan benteng acap kali dihubungkan dengan kemunculan suatu kota, kawasan pecinan dan pasar.

Litografi kuno karya Joseph Jeakes, perupa asal Inggris yang masyhur awal abad ke-19, melukiskan keadaan Fort Hersteller di Salatiga. Jeakes menorehkan sebuah bangunan kokoh bermenara pengawas. Di depannya  terhampar tanah lapang menghijau. Nun jauh, terlihat latar  pegunungan Telomoyo di sisi barat daya kota ini. Namun Jeakes bukanlah orang pertama yang membuat lukisan benteng itu. Akhir abad ke-19, Johannes Rach, seorang seniman asal Denmark, membuat skesta pemandangan benteng yang menandai peradaban Kota Salatiga.

Tinggalan bagian tangsi militer ...Tinggalan bagian tangsi militer Belanda, kini kawasan deretan rumah ini dihuni keluarga purnawirawan. Warga setempat menjuluki kawasan itu sebagai "Veteran Ngeblok". (Mahandis Y. Thamrin)

“Benteng di Salatiga dihancurkan oleh Belanda sendiri,” ungkap Eddy Supangkat, “Saya mengiranya benteng itu dulu di daerah yang sekarang kompleks batalion Kostrad,” satu kawasan dengan Veteran Ngeblok. Supangkat adalah pemerhati bangunan kolonial di Salatiga yang juga penulis buku Salatiga Sketsa Kota Lama dan Galeri Salatiga.

Hingga hari ini, nasib bangunan-bangunan tua yang menjadi penanda zaman kota ini pun kian tergilas pembangunan kota. Menurut Supangkat dalam sepuluh tahun terakhir ini Salatiga kehilangan 77 bangunan tuanya. Jadi rata-rata dalam setahun 7 hingga 8 bangunan tua lenyap.

Atas kemirisan itulah Supangkat bertekad menyelamatkan sisa pesona kotanya melalui forum warga yang peduli benda cagar budaya. Dia juga bergiat menularkan kecintaan akan kotanya dengan membesut kaos-kaos yang membekukan keindahan Salatiga tempo dulu.

Rumah Khalwat Roncalli. Bekas ...Rumah Khalwat Roncalli. Bekas istana Kwik Djoen Eng ini dibangun 1920. Kini dikelola para bruder FIC sebagai pusat spiritualitas Katholik untuk semua ordo. Lokasi: Jl. Diponegoro 90, Salatiga. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)
Editor National Geographic Indonesia dan National Geographic Traveler. "We believe in the power of science, exploration, and storytelling to change the world."

KOMENTAR