Aku Dipanagara Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa

2015 / Januari / 7   07:20

Aku Dipanagara Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa

Pameran yang sudah dipersiapkan selama setahun, akan memamerkan jubah asli Pangeran Dipanagara dan artefak peninggalan pribadi.

Aku Dipanagara Sang Pangeran dalam Ingatan BangsaPangeran Dipanagara (1785-1855) yang pasca pecahnya Perang Jawa pada 1825 memilih dipanggil dengan Sultan Ngabdul Khamid Erucakra. (Foto seizin Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde/KITLV)

Sosok Pangeran Dipanagara dikenang masyarakat Indonesia sebagai pahlawan perjuangan yang memimpin perlawanan Jawa melawan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1825-1830, dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia. Pangeran Dipanagara ditangkap dan diasingkan ke Sulawesi (Menado dan Makassar) dimana beliau meninggal pada tahun 1855.

Selain itu, banyak yang hanya mengenali Dipanagara sebagai pangeran Yogyakarta, dapat dilihat wajahnya selalu terpampang di ruang-ruang kelas seluruh pelosok Indonesia.

Pangeran Dipanagara merupakan pusat dari pameran yang menyajikan karya-karya seni dan akan dilaksanakan pada 6 Februari-8 Maret 2015 di Galeri Nasional Indonesia.

Pameran “Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini” berupaya membangkitkan kisah luar biasa Dipanagara, yang digambarkan oleh pelukis-pelukis klasik, kontemporer, maupun khalayak umum.

Pada saat yang sama, pameran ini juga memaparkan interpretasi historis dan sosiologis bagaimana Pangeran Dipanagara membentuk sejarah seni rupa Indonesia.

Pameran ini merupakan kelanjutan dari pameran “Raden Saleh dan Awal Lukisan Indonesia Modern” Juni 2012 lalu, yang berhasil meraih kesuksesan besar dengan 20.000 pengunjung dalam 2 minggu. Dalam pameran Raden Salah, ditampilkan lukisan “Penangkapan Diponegoro”.

Dikurasi oleh Dr. Werner Kraus, Jim Supangkat, dan Dr. Peter Carey, pameran yang menghubungkan antara masa lalu dan masa kini ini bertujuan untuk mendorong pemahaman lebih dalam akan kenangan budaya yang mengizinkan masyarakat Indonesia untuk membangun gambaran narasi masa lalu dan mengembangkan citra dan indentitasnya sendiri.

“Tentu target pameran ini untuk kesadaran sejarah, terutama untuk anak muda yang selalu bicara global tapi tidak punya pengertian terhadap sejarah,” ujar Jim di Galeri Nasional Indonesia saat konferensi pers Selasa, 6 Januari 2015.

Sementara itu menurut sejarawan asal Inggris Peter Carey, pameran ini berusaha menggambarkan masa transisi brutal dan singkat dari tatanan Jawa lama ke dunia modern yang disorong oleh revolusi dan politik yang telah menempa dan menjungkir balik Eropa pada masa muda Diponegoro sebelum perang Jawa (1825-1830).

“Pameran ini lebih dari sekedar studi tentang transisi, juga menoleh pada warisan Dipanagara baik sebagai tokoh sejarah utama dan sebagai manusia,” ujar Peter.

Nantinya pameran “Aku Diponegoro” dibagi menjadi tiga bagian yang menampilkan pendekatan tersendiri terhadap sosok Dipanagara.

Bagian pertama, akan difokuskan pada karya seni Indonesia yang mempunyai tema Dipanagara. Sorotan utama pameran ini adalah lukisan “Penangkapan Dipanagara” karya Raden Saleh. Lukisan ini dilengkapi juga dengan sejumlah potret Dipanagara yang digambarkan oleh seniman ternama Indonesia seperti Soedjono Abdullah, Harijadi Sumodidjojo, Basuki Abdullah, Sudjojono, dan Hendra Gunawan.

Bagian kedua, akan dipamerkan karya-karya seniman kontemporer Indonesia yang memberikan pendekatan kontemporer kepada sosok Dipanagara.

Pusat perhatian bagian ketiga ini adalah karya yang sifatnya low art yang tentu berkaitan dengan Dipanagara seperti fotografi, lukisan pada kaca, patung kayu, kartu, komik, uang, dll.

Pameran yang sudah dipersiapkan selama setahun, akan menambah sebuah ruangan untuk memamerkan jubah asli Pangeran Dipanagara dan artefak peninggalan pribadi Dipanagara seperti tombak pusaka.

Pameran “Aku Diponegoro” merupakan kerja sama Goethe Institut, Galeri Nasional Indonesia, Kemendikbud, Kedubes Republik Federasi Jerman di Indonesia, Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Erasmus Huis, Galeri Foto Jurnalistik Antara, dan Universitas Paramadina.

(Nurul Kusumawardani)

KOMENTAR