Diakui Dunia, Arkeologi Kurang Dapat Perhatian Pemerintah Kita
2014 / Desember / 17   22:10

Diakui Dunia, Arkeologi Kurang Dapat Perhatian Pemerintah Kita

Selain Homo floresiensis, banyak temuan luar biasa yang berhasil diungkap para arkeolog dalam negeri.

Diakui Dunia, Arkeologi Kurang Dapat Perhatian Pemerintah KitaIlustrasi manusia Homo floresiensis yang berdasarkan temuan rangka hanya setinggi anak usia tiga tahun manusia modern. (Peter Schouten/National Geographic)

Hingga sekarang, penemuan manusia Liang Bua atau Homo floresiensis di Flores, Nusa Tenggara Timur, 11 tahun lalu, menjadi sorotan para peneliti dunia. Karena temuan ini, empat ilmuwan Indonesia dari Pusat Arkeologi Nasional, yaitu Rokus Awe Due, E Wahyu Saptomo, Jatmiko, dan Thomas Sutikna, masuk dalam jajaran ilmuwan dengan pemikiran ilmiah paling berpengaruh sedunia tahun 2014 menurut versi Thomson Reuters, di London, Inggris. Namun, diskursus dan perhatian dalam negeri terhadap temuan spektakuler ini justru tidak menggema.

Arkeolog senior Universitas Indonesia (UI) Prof Mundardjito mengungkapkan, sama sekali tak ada perhatian pemerintah terhadap peneliti yang benar-benar bekerja serius dan menghasilkan temuan luar biasa. "Para peneliti kita ini dikenal sangat jago dalam penelitian di lapangan. Pak Rokus, misalnya, adalah ahli tulang yang paham betul detail seluk-beluk tulang belulang. Mereka sungguh-sungguh bekerja, tetapi tidak pernah mendapat perhatian dari negara," katanya, di Jakarta, Selasa (16/12).

Menurut Mundardjito, selain Homo floresiensis, banyak temuan luar biasa yang berhasil diungkap para arkeolog dalam negeri. Namun, tak banyak yang diperhatikan, apalagi didukung optimal oleh pemerintah.

"Selain temuan Liang Bua, di Sumatera Prof Truman Simanjuntak juga menemukan hunian Homo sapiens massal di Goa Harimau. Begitu juga Sugeng Riyanto dan para arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta yang menemukan hunian Mataram Kuno yang lengkap di Situs Liyangan, Temanggung," ungkap Mundardjito.

Situs lengkap

Temuan di Liang Bua mendapat perhatian dunia karena menyajikan sejarah manusia secara berulang-ulang dari masa ke masa sejak masa Plestosen hingga Holosen. Di dalam goa, arkeolog menemukan sisa-sisa kehidupan mulai dari 450 tahun lalu hingga 18.000 tahun lalu.

"Pada lapisan Holosen, ditemukan tinggalan-tinggalan berciri budaya neolitik berupa 14 kubur manusia dengan bekal kubur periuk serta beliung persegi. Di antara lapisan Holosen dan Plestosen, ditemukan lapisan abu vulkanik dari umur 12.000 dan 17.600 tahun lalu yang menjadi pembatas antara lapisan Holosen dan Plestosen. Homo floresiensis setinggi 106 sentimeter dengan volume otak 417 sentimeter kubik ditemukan di lapisan Plestosen pada kedalaman 5,9 meter," kata Jatmiko, salah satu peneliti Situs Liang Bua.

KOMENTAR