Tiga Kebudayaan Asli Indonesia Kembali Dapat Pengakuan Dunia
2014 / Oktober / 24   10:40

Tiga Kebudayaan Asli Indonesia Kembali Dapat Pengakuan Dunia

Sebelumnya, juga tiga warisan kebudayaan kita yang lebih dulu mendapat pengakuan dunia yaitu batik, keris, dan wayang.

Tiga Kebudayaan Asli Indonesia Kembali Dapat Pengakuan DuniaAlat musik gamelan Sunda di rumah Dudu Duroni, salah seorang penggiat penghijauan di Sarongge. Kesenian menjadi daya tarik lain dalam ekowisata. (Reynold Sumayku/National Geographic Indonesia)

Tiga kebudayaan Indonesia akan mendapat pengakuan dunia di tahun 2014. Warisan budaya asli Indonesia yang mendapat pengakuan dunia yakni Gamelan, Sekaten, dan Lumpia.

Dengan pengakuan dunia internasional maka warisan budaya asli Indonesia tersebut tidak bisa diklaim oleh negara luar.

Sebelumnya, juga tiga warisan kebudayaan asli Indonesia yang telah lebih dulu mendapat pengakuan dunia yaitu batik, keris, dan wayang.

"Yang sudah dicatatkan sebagai warisan budaya dunia tahun lalu adalah batik, keris, dan wayang. Tahun ini kita mendapat pengakuan warisan budaya asli Indonesia lagi yakni gamelan, sekaten, dan lumpia. Sebenarnya ada satu lagi yakni sintren, tetapi untuk sintren masih dikaji ulang mudah-mudahan untuk 2015 kita bisa mengusulkan lebih banyak lagi," ujar Kepala Seksi Nilai Budaya Bidang Nilai Budaya Seni dan Film Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng, Eny Haryanti saat ditemui Tribun Jateng, pada Rabu (22/10).

Secara teknis, pengusulan itu melewati beberapa proses. Pertama, dari pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terkait bekerjasama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya di Yogyakarta (membawahi tiga kawasan di Jawa yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur).

Selanjutnya usulan dikaji ke Subdit Kekayaan Budaya Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kemudian dilanjutkan ke UNESCO untuk mendapat pengakuan.

Eny berharap selain untuk melestarikan budaya, tembang dolanan juga akan diusulkan menjadi warisan budaya dunia non benda.

(Sumber: Tribun Jateng)

KOMENTAR