Jaranan, Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
2014 / Oktober / 13   14:00

Jaranan, Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Jaranan, seni tari kerakyatan tua yang menggambarkan soal kegagahan itu sampai saat ini masih eksis di tengah perubahan zaman.

Jaranan, Bertahan di Tengah Perubahan ZamanTarian kolosal yang dilakukan lebih dari 1.000 penari barong, bagian dari kesenian jaranan atau jaran kepang, meramaikan Pekan Budaya dan Pariwisata Kediri 2014 di Jawa Timur, yang berlangsung di Simpang Lima Gumul, Sabtu (16/8/2014). Meskipun sejumlah kesenian tradisional lain mulai pudar karena kalah dari perkembangan zaman, tidak demikian halnya dengan barong dan jaranan. Kesenian ini masih eksis, bahkan kelompok kesenian ini terus bertambah di Kediri. (Defri Werdiono/Kompas)

Beberapa daerah di Provinsi Jawa Tengah menyebut tari ini sebagai jatilan. Sementara di daerah subkultur Mataraman, Jawa Timur, kesenian yang sering melibatkan unsur magis hingga penarinya kesurupan ini dikenal sebagai jaranan. Seni tari kerakyatan tua yang menggambarkan soal kegagahan itu sampai saat ini masih eksis di kala seni yang lain pudar akibat perubahan zaman.

Cuaca terik di sekitar Monumen Simpang Lima Gumul, Desa Sumberjo, Ngasem, Kabupaten Kediri, pertengahan Agustus silam, tidak menyurutkan niat ribuan orang menunggu tari kolosal 1.000 barong. Tarian itu salah satu agenda penutup Pekan Budaya dan Pariwisata Kediri 2014 yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah setempat. Mereka mengalir datang sejak beberapa jam sebelum acara dimulai.

Untuk meredam panas, sebuah mobil tangki disiagakan guna menyemprotkan air ke permukaan aspal yang menjadi arena perhelatan. Selepas pukul 14.00, lebih dari 1.000 orang mengenakan atribut barong pun beraksi setelah sebelumnya didahului oleh beberapa tarian, di antaranya kawedar dan jingkrak.

Menggenakan topeng berupa naga lengkap dengan mata melotot berwarna mencolok, mahkota kecil, dan kostum panjang terurai, mereka menari bersama mengikuti perpaduan suara gamelan khas yang dipertegas narasi dari mulut pengrawit. Meski tidak tercatat dalam museum rekor, pentas massal yang kali ini memasuki tahun kedua itu mendapatkan apresiasi meriah dari penonton.

Barong merupakan bagian dari jaranan, selain kuda, babi hutan, dan satwa lain yang dibuat dari anyaman bambu (kepang). Ada beberapa versi cerita dalam jaranan, di antaranya Dewi Sangga Langit asal Kediri yang diminta menikah oleh orangtuanya hingga akhirnya membuat sayembara bagi lelaki yang ingin meminangnya. Para pelamar diminta membuat kesenian yang belum pernah ada.

Dari sejumlah pelamar yang menyukai Sangga Langit, ada dua orang, yakni Klana Sewandana asal Wengker dan Singa Lodaya asal Blitar. Keduanya kemudian terlibat perkelahian hingga salah satunya kalah. Singa Lodaya yang kalah kemudian membantu memboyong pasangan Klana Sewandana dan Sangga Langit ke Wengker dengan iringan-iringan kuda.

Versi lain menyebutkan, cerita yang diadopsi jaranan kemungkinan berasal dari pasukan penjemput Dewi Kilisuci di masa Airlangga akhir ketika ia selesai bertapa di gunung. Ada juga versi yang menyebut raja dari Ponorogo ingin mempersunting Dewi Sangga Langit, tetapi gagal hingga akhirnya terjadi peperangan.

Tak pernah sepi
Terlepas dari perbedaan versi cerita, satu hal yang pasti adalah seni ini tidak pernah sepi penonton. ”Dibandingkan dengan tahun 1970-an dan 1980-an, sepertinya saat ini lebih ramai. Panggilan untuk pentas masih sering kami terima untuk menghibur acara hajatan. Bahkan, di Goa Selomangleng (Kediri) masih diadakan pertunjukan bergilir sekali dalam sebulan,” kata Darno (57), Ketua Kelompok Jaranan Setyo Budoyo, Desa Goro, Mojoroto.

Darno bergabung dengan jaranan sejak sekolah dasar. Darno kecil mewarisi keahlian orangtuanya yang juga penari jaranan secara turun-temurun. Kini, anak dan cucunya yang masih duduk di bangku SMP juga telah meneruskan langkahnya. Bersama anggota kelompok yang berjumlah 40 orang, pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu tidak hanya pentas di sekitar Kediri, tetapi juga sampai Surabaya. Upah pentas bervariasi, yakni Rp 4 juta-Rp 10 juta, tergantung jarak.

Subagyo (52), Ketua Paguyuban Suryodadari asal Bandar, Kecamatan Mojoroto, Kediri, menuturkan, jaranan memang mengalami pasang surut sebelum ramai kembali dalam satu sampai dua dasawarsa terakhir. Begitu pula dengan kreativitas tampilan, cerita, dan inovasi yang sebelumnya menghilang, kini mulai muncul kembali.

Di Jawa Timur, jaranan lebih dikenal di daerah Mataraman, mulai dari Malang hingga Pacitan. Adapun yang sering disebut sebagai sentra jaranan ialah Kediri. Ada beberapa hal yang menjadi parameter, salah satunya jumlah grup jaranan di Kediri cukup besar. Ketua Paguyuban Kesenian Jaranan Kabupaten Kediri Hari Pratondo menyebutkan, saat ini ada 400-an grup kesenian di wilayahnya dan tahun ini bertambah 22 grup.

Alasan lain Kediri menjadi sentra karena dari sisi setting cerita yang berkembang, putri yang diperebutkan berasal dari Kediri. ”Jadi, yang dilamar adalah Dewi Sekartaji (Sangga Langit) di Kediri. Jadi, simbolnya di Kediri. Ini berdasarkan cerita dulu yang disampaikan dari mulut ke mulut,” ujar Hari.

Sejarawan dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, mengatakan, sejauh ini memang belum ditemukan data tertulis atau prasasti yang membahas soal jaranan. Yang ada baru relief candi, seperti di Candi Jawi, Pasuruan, yang memperlihatkan seorang perempuan bertapa dan pasukan berkuda yang diduga merupakan Dewi Kilisuci.

Yang pasti, kata Dwi, jaranan sudah ada sejak lama. Jika yang disampaikan dalam cerita lisan selama ini benar, kemungkinan jaranan sebagai tari kerakyatan kuno embrionya sudah ada pada abad ke-12 dan mulai kental pada abad ke-13 dan ke-14. Pada masa kolonial telah ada catatan soal itu. Thomas Starmford Raffles dalam buku History of Java ( 1817) membicarakan sebuah pertunjukan di Jawa yang menggunakan imitasi kuda.

”Jaranan merupakan seni kuno yang berlanjut sampai sekarang,” ujarnya, yang membenarkan bahwa setengah abad lalu seni ini pernah menjadi alat politik (politic labeling) hingga membuatnya sempat terhenti selama beberapa waktu.

Jaranan sebagai seni memiliki sejumlah varian, di antaranya jaranan pegon, senterewe, jawa, dan buto. Munculnya perbedaan versi dalam jaranan, baik menyangkut penamaan maupun cerita yang diusung, menurut Dwi, merupakan sesuatu yang baik. Setiap komunitas memiliki peluang menafsirkan. Hal ini dinilai sah dalam seni pertunjukan kerakyatan.

(Defri Werdiono/Kompas)

KOMENTAR