Gerbong Maut: Saksi Bisu Tawanan Indonesia di Masa Kolonial Belanda
2014 / Mei / 4   10:15

Gerbong Maut: Saksi Bisu Tawanan Indonesia di Masa Kolonial Belanda

Gerbong kereta api yang mengangkut puluhan tawanan Belanda, kini menjadi bukti sejarah di Malang

Gerbong Maut: Saksi Bisu Tawanan Indonesia di Masa Kolonial BelandaGerbong bersejarah yang sudah berusia puluhan tahun, tetapi masih terjaga keasliannya. (Ni Luh Made Pertiwi F/Kompas.com)

Sebuah potongan sejarah kelam bersemayam di Museum Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur. Terletak persis di halaman belakang museum, sebuah gerbong berdiri kokoh. 

Dari tampilan luar, gerbong berwarna hitam, abu-abu, dan putih tersebut tampak terawat dengan baik. Catnya masih utuh, pun keseluruhan rangka yang terbuat dari besi. Sekilas, gerbong tersebut tak terkesan usang.

Namun, di balik kegagahan gerbong tersebut, tersimpan kisah pilu di masa perjuangan melawan penjajah. Tak heran, gerbong ini pun dijuluki dengan sebutan "Gerbong Maut".

"Gerbong ini digunakan militer Belanda untuk membawa tawanan, orang-orang Indonesia, dari Penjara Bondowo ke Penjara Bubutan di tahun 1947," cerita Suryo, petugas Museum Brawijaya. 

Penjara Bondowoso berada di Kabupaten Bondowoso sementara Penjara Bubutan berada di Surabaya. Ada tiga gerbong yang mengangkut para tawanan. Tawanan ini adalah para pejuang Indonesia yang melawan Belanda saat itu.

Kereta berangkat pada 23 November 1947 di jam sekitar jam lima pagi dari Stasiun Bondowoso dan sampai di Stasiun Wonokromo, Surabaya, sekitar jam delapan malam. Perjalanan yang memakan waktu 16 jam tersebut yang mengantarkan para tawanan kepada maut. Sebuah kisah mencekam dan memilukan. 

Bayangkan saja bagaimana rasanya berada di dalam mobil tertutup tanpa pendingin udara di siang hari bolong. Tentu tak sekedar gerah, namun juga menyesakan. Kondisi di dalam gerbong maut tersebut berkali-kali lipat mengenaskan.

Keseluruhan gerbong terbuat dari baja yang rapat. Tanpa ada ventilasi apapun. Ketika pintu ditutup dan dikunci, alhasil tak ada udara yang masuk, pun tak ada udara keluar. Apalagi perjalanan yang ditempuh sebagian besar dilakukan di siang hari. Hasilnya, adalah ibarat sebuah oven. 

"Bahkan saking panas dan pengap, kulit-kulit orang di dalamnya saling menempel dan terkelupas. Sepanjang perjalanan mereka berteriak minta air, minta makan, minta udara, tapi tidak diberikan oleh orang Belanda," kisah Suryo. 

Dari tiga gerbong, gerbong maut yang berada di Museum Brawijaya merupakan gerbong yang paling banyak memakan nyawa. Hal ini karena dua gerbong lainnya terdapat lubang kecil. Para tawanan bergantian menghirup udara melalui lubang kecil tersebut.

"Sedangkan gerbong maut yang di sini, benar-benar rapat, tidak ada lubang. Total ada 100 orang, 46 orang mati, 11 orang sakit payah, 31 sakit, dan yang sehat hanya 12 orang," kata Suryo. 

Gerbong yang dipamerkan di Museum Brawijaya merupakan gerbong paling baru dibanding gerbong maut lainnya. Tawanan paling banyak ditempatkan di gerbong berseri GR 10152 karena kondisinya yang lebih panjang. Seluruh tawanan di gerbong ini meninggal.

Seperti dituturkan Suryo, salah satu tawanan yang selamat adalah Singgih. Singgih menceritakan ketika para tawanan berteriak minta air, makan, dan udara, pihak militer Belanda malah mengharapkan para tawanan tewas saja daripada sampai dalam keadaan hidup.

Di Museum Brawijaya, hanya ada satu dari tiga gerbong yang mengangkut para tawanan tersebut. Museum terletak di Jalan Ijen Nomor 25, Kota Malang. Terdiri dari dua ruangan, pengunjung bisa melihat sejarah tentara TNI mulai dari paska kemerdekaan. 

Ruangan pertama menampilkan sejarah perjuangan Indonesia di era paska kemerdekaan 1945-1949. Ruangan satu lagi ruangan di era tahun 1950 sampai 1976, lebih menampilkan perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.

(Ni Luh Made Pertiwi F/Kompas.com)

KOMENTAR