Vila Isola Bandung, Bangunan Art Deco Terunik
2014 / April / 27   12:06

Vila Isola Bandung, Bangunan Art Deco Terunik

Berlokasi di kawasan kampus Universitas Pendidikan Indonesia, gedung ini sekarang bernama Bumi Siliwangi dan menjadi kantor rektorat UPI

Vila Isola Bandung, Bangunan Art Deco TerunikVila Isola, Bandung. | P.J. van Baarda/Wikimedia Commons

Kolonialisme Belanda di Indonesia tidak hanya meninggalkan duka, tetapi warisan berupa bangunan-bangunan megah dengan gaya arsitektur yang unik dan menarik. Salah satu gaya yang berkembang saat itu adalah art decorative atau biasa kita kenal dengan istilah art deco.

Untuk langgam seperti itu Bandung adalah gudangnya. Bahkan belum lama ini UNESCO menetapkan Bandung sebagai kota dengan bangunan art deco terbanyak dan terlengkap di dunia.

Salah satu bangunan art deco yang paling unik di Bandung adalah Vila Isola. Jika berkunjung ke Bandung gedung ini rasanya wajib kunjung. Berlokasi di kawasan kampus Universitas Pendidikan Indonesia, gedung ini sekarang bernama Bumi Siliwangi dan menjadi kantor rektorat Universitas Pendidikan Indonesia.

Vila Isola mulai dibangun pada bulan Oktober 1932 dan selesai bulan Maret 1933, dirancang oleh arsitek ternama Charles Prosper Wolff Schoemaker, salah seorang arsitek yang banyak menghiasi kota Bandung dengan karyanya. Vila ini dibangun khusus sebagai rumah peristirahatan pribadi milik seorang kaya keturunan Jawa-ltalia yang bernama Dominique Willem Beretty, pemilik kantor berita internasional Hindia Belanda (Algemeen Nieuws en Telegraaf Agentschap/ANETA) yang dikemudian hari menjadi Kantor Berita ANTARA.

Waktu dibangun kawasan sekitarnya masih sepi dan belum dipenuhi bangunan. Pandangan ke arah Kota Bandung sangat indah. Sayangnya, Berrety meninggal tak lama setelah bangunan ini rampung.

Nama Isola merupakan kependekan dari frasa bahasa Latin M'ISOLO E VIVO yang artinya kira-kira "Saya mengasingkan diri dan bertahan hidup". Bisa dikatakan Vila Isola ini sebagai "vila terpencil".

Vila Isola memadukan gaya arsitektur modern dan konsep tradisional Jawa dengan poros kosmik utara-selatan seperti halnya Gedung Sate dan gedung utama ITB. Poros kosmik ini juga diperkuat dengan hadirnya sebuah taman memanjang di halaman depan gedung ini yang tegak lurus dengan sumbu melintang bangunan ke arah Gunung Tangkuban Perahu.

Terdiri atas tiga lantai, lantai terbawah lebih rendah dari jalan raya karena topografinya yang tidak rata. Sementara satu lantai di atasnya merupakan penambahan masa sekarang.

Tahun 1936 vila ini dibeli oleh Hotel Savoy Homann yang saat itu dikelola oleh Fr. J. van Es. Sebelumnya van Es dikenal karena kesuksesannya mengelola Hotel Des Indes di Batavia. Hotel Savoy Homann kemudian menjadikan vila ini sebagai hotel umum.

Tanggal 20 Oktober 1954, Vila Isola berubah fungsi menjadi Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang menjadi cikal bakal Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Sejak saat itu Vila Isola berubah nama menjadi Bumi Siliwangi.

Di bagian dalam kita bisa menikmati kaca patri pada pintu masuk, tangga cabang dua yang bertemu di satu titik, dan ruangan yang
berkelok-kelok khas bangunan tempo dulu. Semua ruangan mempunyai jendela yang lebar dan pintu lebar berkaca yang berfungsi sebagai saluran ventilasi dan saluran sinar matahari. Penggunaan jendela dan pintu yang lebar merupakan salah satu penerapan konsepsi tradisional yang menyatu dengan alam.

Bila berkesempatan, naiklah ke lantai paling atas karena kita akan menemui pemandangan yang menakjubkan. Saat menundukkan kepala ke bawah, kita akan melihat pemandangan dok kapal dengan riak air di sekelilingnya yang sebenarnya adalah atap lantai dua. Sementara efek riak air tersebut ditimbulkan oleh susunan undakan teras yang membulat.

Banyak bangunan art deco di Bandung yang arsitekturnya mengadopsi konsep kapal pesiar, sebab pada masa itu kapal pesiar dianggap sebagai simbol kemajuan zaman. Tiap sudut bangunan dari gedung ini dibuat melengkung-lengkung membentuk seperempat lingkaran. Sehingga bila dilihat dari atas, secara keseluruhan bangunan dan taman bagaikan efek air bergelombang yang timbul karena benda jatuh dari atasnya.

Hingga kini, keindahan Vila Isola masih sanggup membuat orang yang melihatnya berdecak kagum. Banyak orang yang menjadikan bangunan ini sebagai lokasi pemotretan ataupun pembuatan videoklip. Begitu pula tamannya yang sejuk dan teduh, selalu ramai oleh para mahasiswa yang sedang berkumpul, duduk-duduk santai, ataupun mengulang bahan pelajaran.

Tintin, salah seorang mahasiswi UPI jurusan Manajemen Industri Katering 2008, mengaku sangat senang menghabiskan waktu di taman Isola sejak pertama kali kuliah. Yang paling ia sukai dari taman ini adalah bangku yang terletak di pinggir kolam besar yang suasananya sangat cocok untuk bersantai.

Untuk masuk ke Vila Isola perlu surat resmi permohonan izin kunjungan yang dialamatkan kepada pengelola gedung ini. Jika beruntung maka kita dapat menikmati keindahan salah satu karya fenomenal Schoemaker ini. Tapi walaupun tidak, tak perlu kecewa karena kita masih bisa menikmati keindahan Vila Isola dari luar sambil bersantai di tamannya yang sejuk dan asri.

(Yds Agus Surono. Sumber: intisari-online.com)

KOMENTAR