Gedung Thamrin, Saksi Sejarah Bangsa Indonesia
2014 / April / 6   10:15

Gedung Thamrin, Saksi Sejarah Bangsa Indonesia

Awalnya gedung yang dibangun oleh Meneer Has ini difungsikan sebagai rumah pemotongan hewan serta tempat penampungan buah dari Australia

Gedung Thamrin, Saksi Sejarah Bangsa IndonesiaMuseum Thamrin, museum yang menampilkan memorabilia atas pahlawan asal Betawi, Mohammad Husni Thamrin. | Nicky Aulia Widadio/Kompas.com

Menelisik jejak sejarah bangsa Indonesia di Jakarta tidak akan ada habisnya. Di salah satu gang jalan di kawasan Kramat, Jakarta Pusat, terdapat sebuah bangunan yang menjadi saksi atas munculnya gagasan politik perjuangan bangsa Indonesia. Bangunan itu adalah Gedung Thamrin.

“Dinamai Gedung Thamrin karena memang gedung ini dulunya dimiliki oleh Mohammad Husni Thamrin,” ujar Staf Bagian Edukasi dan Pameran Museum Thamrin, Ignasius Kumin, saat ditemui Kompas Travel di Museum M.H. Thamrin, Jakarta, Jumat (4/4).

Awalnya, gedung yang kini menjadi Museum M.H. Thamrin ini dibangun oleh orang Belanda bernama Meneer Has. Gedung difungsikan sebagai rumah pemotongan hewan serta tempat penampungan buah-buahan dari Australia untuk didistribusikan ke instansi-instansi Belanda di Batavia. Pada 12 Maret 1927, M.H. Thamrin membeli gedung ini dari Meneer Has.

(Baca juga: Matseni Pembela Kaum Miskin Betawi)

Di tahun-tahun selanjutnya, gedung ini menjadi saksi dari berbagai peristiwa bersejarah. Pada 1928, gedung ini diserahkan untuk kaum pergerakan kebangsaan yang tergabung dalam Organisasi Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Saat itu, M.H. Thamrin sedang menjabat sebagai anggota Volksraad.

“Di gedung ini para tokoh kebangsaan mengadakan rapat permufakatan dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, sehingga juga dikenal dengan nama Gedung Permufakatan Indonesia,” tutur Ignasius.

Tidak banyak yang tahu, bahwa di gedung ini lahir gagasan politik perjuangan kemerdekaan Indonesia oleh pemuda pergerakan Indonesia. Konon, di gedung ini pula konsep lagu Indonesia Raya karya W.R. Supratman pertama kali diperdengarkan secara instrumental, tanpa alunan lirik.

Sebagai bentuk nyata perjuangan atas kesejahteraan rakyat, gedung ini juga menjadi tempat untuk menyelenggarakan gerakan pendidikan Perguruan Rakyat. Perguruan Rakyat dibentuk pada 11 Desember 1928 yang diprakarsai oleh Dr. Mr. Moh Nazief. Pada 8 Januari 1929, Perguruan Rakyat mulai membuka kursus-kursus malam hari berupa pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Tatanegara, Sejarah Indonesia, Etnologi, Kemasyarakatan, Tata Buku, mengetik, dan ceramah.

(Baca juga: Bukti Kota Cina Sebagai Bandar Penting Ketika Sriwijaya Surut)

Beberapa nama besar hadir sebagai pengajar di gedung ini. Antara lain, Ki Hajar Dewantara mengajar tentang pendidikan, Dr. Sarjito mengajar tentang pemberantasan penyakit, Dr. Mr. Moh. Nazief tentang kesehatan dan jurnalistik, Dr. Purbacaraka tentang Bahasa Kawi Kawi, dan H. Agus Salim tentang Agama Islam. Salah satu mahasiswa dari Perguruan Rakyat adalah Ismail Marzuki. Di gedung ini, Ismail mengembangkan dirinya hingga menjadi seorang pemusik terkenal yang menciptakan sejumlah lagu-lagu perjuangan.

Pada 1935, gedung ini menjadi tuan rumah bagi Kongres Persatuan Arab di Indonesia. Empat tahun kemudian, pada 1939, gedung ini menjadi tempat dilaksanakannya Kongres Partai Rakyat Indonesia dan Kongres Gabungan Partai Indonesia. Baru pada 1972 gedung ini akhirnya dinobatkan sebagai bangunan sejarah yang dilindungi Undang-undang,dan pada 11 Januari 1986 diresmikan sebagai Gedung M.H. Thamrin oleh R. Soeprapto.

Kini, Gedung Thamrin telah disulap menjadi Museum Thamrin. Menyimpan segala informasi yang membuktikan bahwa ia juga berperan bagi tercapainya kemerdekaan Indonesia.

(Nicky Aulia Widadio. Sumber: kompas.com)

KOMENTAR