Petualangan Seru di Kalisuci (I)
2013 / Oktober / 26   11:00

Petualangan Seru di Kalisuci (I)

Kelelawar berkelebat dan bergantungan di langit-langit gua. Terasa hening, sejuk, air dingin. Suasana yang membuat betah.

Petualangan Seru di Kalisuci (I)Menikmati interior gua seraya menyimak keterangan ilmiah dari pemandu profesional (Dwi Oblo)

Tube atau ban dalam bekas pakai yang kami naiki bergerak perlahan aliran air Kalisuci (bahasa Jawa yang berarti sungai berair jernih). Tiba pada satu titik, gerak tube kami tahan, agar bisa leluasa beberapa jenak menikmati keindahan pahatan alam gua-gua di Gunung Kidul yang spektakuler.

Kalisuci berlokasi di dalam perut bumi di bawah tanah, melewati gua-gua. Inilah salah satu segmen kawasan karst Gunungsewu yang membentang hingga tiga kabupaten, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Wonogiri, Jawa Tengah, dan Pacitan, Jawa Timur, mencakup sepuluh wilayah kecamatan seluas 13.000 kilometer persegi.

Kami pandangi interior Kalisuci sembari menyimak penuturan pemandau tentang ciri-ciri fenomena di permukaan (ekokarst) meliputi bentukan positif seperti perbukitan karst yang berbentuk kerucut (conical limestone) dan kubah (doline), sedang bentuk negatifnya berupa lembah-lembah (poltje) dan telaga karst. Juga, fenomena di bawah permukaan (endokarst) meliputi gua-gua lengkap dengan stalagmit dan stalagtit serta aliran sungai bawah tanah.

Kawasan karst Kalisuci berada di Dukuh Jetis, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul. Jarak tempuk sekitar 50 km dari Yogyakarta atau 10 km dari Wonosari. Sebelum menempuh petualangan ini, kami lebih dulu menemui ahli gua Cahyo Alkantana. Menurutnya, Kalisuci adalah salah satu dari tiga cave tubing di dunia selain Meksiko dan Selandia Baru. Gua yang dilewati Gua Suci, Gua Glatikan, Gua Gelung, Gua Buri Omah, Gua Grubug, Gua Jomblang.

Sungai berair jernih berlebar lima hingga sepuluh meter ini bermuara di Laut Selatan. Dari ketinggian tebing, tampak aliran sungai berkelok-kelok. Gradasi warna fantastis: tanah kecokelatan, tebing karst dan daun-daun meranggas, air biru kehijauan. Benderang sinar matahari berganti gelap pekat dalam luar. Di dalam, kami beroleh pencahayaan dari headlamp.

Tampak tetesan air dari stalaktit, sebagian berupa batu kristal. Kelelawar berkelebat dan bergantungan di langit-langit gua. Terasa hening, sejuk, air dingin. Suasana yang membuat betah. Bagi petualang, arus cukup deras dalam gua terbilang memukau.

Kalisuci dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Kawasan Ekokarst. Hampir dua dekade silam sudah diusulkan oleh International Union Speleology kawasan Karts Gunungsewu termasuk Kalisuci sebagai salah satu warisan alam dunia. Merumut ukurannya, terluas di DI Yogyakarta. Wisata alam beragam dari gua, sungai bawah tanah, telaga dan pantai.Gua-guan dengan pahatan alam indah tersembunyi.

Keunikan fenomena bentukan alam, karst permukaan berupa bentukan depresi yang runtuh membentuk gua-gua vertikal dan bentukan positiff berupa bukit karst berbentuk kerucut. Di bawah permukaan berupa aliran sungai bawah tanah yang mengalir di gua-gua horizontal. Inilah suatu sistem aliran sungai bawah tanah yang saling berhubungan satu sama lain di kawasan karst Gunungkidul.

Menurut Cahyo Alkantana kawasan karst tidak miskin air, biasanya ditambang, sebagai upaya menyambung hidup di kawasan gersang. Melalui proses ribuan tahun tercipta gua-gua yang menyimpan sumber air melimpah. Sebagian besar masyarakat setempat beternak, bercocok tanam. Tanah berbatu sulit ditanami, air langka. Batu gamping tidak menyimpan air hujan. Batu gamping ditambang, batu bongkahan diolah jadi semen, keramik atau kosmetik. Risiko penambangan batu gamping. Keropos bisa ambruk sewaktu-waktu.

Di balik kawasan karst menyimpan potensi air jauh di bawah permukaan. Sumber air melimpah di dalam gua-gua. Lapisan tanah di kawasan karst terbilang tipis. Di bawahnya lapisan batu gamping berongga. Air hujan merembes di lapisan batu bercampur karbondioksida dari udara. Hasilnya senyawa asam karbonat yang perlahan mengikis rongga-rongga batu gamping. Proses bergenerasi rongga terkikis semakin lebar dan luas menjadi gua.

Lubang besar membuat tetesan air mudah turun hingga ratusan meter menuju lapisan batu kedap air. Tetesan air yang terkumpul menjadi aliran sungai bawah tanah Gua Suci. Melalui Kalisuci alirannya masuk ke dalam rongga gua. Terhubung lubang-lubang raksasa di atasnya

Masyarakat setempat menyembutnya luweng. Luweng terjadi akibat proses erosi bertahun-tahun. Lama kelamaan atap lorong runtuh atau lazim disebut collapsed sink hole. Sepanjang Kalisuci ada dua luweng, Gelatik dan Gelung. Berujung di kolam air besar dalam gua.

Gua Buri Omah berada di belakang permukiman warga. Masyarakat turun ke bawah mencari air di musim kering. Sumber air melimpah Kalisuci, sungai permukaan yang masuk ke lubang batu atau gua. Kendaraan mengarungi sungai dalam gua. Muara sekitar 30 km di Pantai Baron. Debit airnya besar sekali. Saat musim hujan debit air bisa mencapai langit-langit gua.

Lorong Gua Suci sejauh 150 m. Ornamen gua indah. Lalu Luweng Gelatikan di man atap lorong runtuh collapsed sink hole. Vegetasi tumbuh bambu beringin fikus atau pakis-pakisan berkerabat dengan beringin. Lubang kedua ada downline disebut gelung. Karakter Gua Gelatik mirip Gua Suci. Aliran sungai berkelok, berjarak lebih pendek. Lalu Luweng Gelung.

Proses terjadi mirip Luweng Gelatik. Vegetasi didominasi pepohonan bambu. Sama-sama memiliki kelembaban tanah cukup tinggi. Penetrasi sinar matahari terbilang minim, tanah basah, subur. Terakhir Gua Gelung, ada sump atau sungai berbentuk kolam tidak punya rongga lagi. Untuk penelusuran lebih lanjut butuh peralatan khusus.

Pemandu yang tergabung dalam Karang Taruna berbagi ilmu dasar speleologi tentang gua dan lingkungan sekitarnya, juga ilmu morfologi kawasan batu kapur dan ilmu speleogenesistentang terbentuknya gua, juga ilmu biospeologi tentang kehidupan gua dan sebagainya. Inilah wisata edukasi berpadu wisata alam.

*Artikel ini pernah diterbitkan dalam National Geographic Traveler Indonesia edisi Januari 2012.

(Vega Probo)

KOMENTAR