''Benteng Terakhir adalah Ekowisata''
2013 / September / 23   14:20

KONSERVASI

"Benteng Terakhir adalah Ekowisata"

Bagaimana potensi serta risiko pengembangan gua untuk wisata?

''Benteng Terakhir adalah Ekowisata''Cahaya yang masuk ke lubang besar di atap Gua Jomblang, Daerah Istimewa Yogyakarta, diabadikan oleh pejalan. Foto diambil pada Maret 2013 saat waktu hampir pukul 12.00 siang. Waktu tersebut dianggap paling baik untuk melihat arah jatuhnya cahaya matahari.. (Andi Prianto/National Geographic Indonesia)

Menurut Nurwanto Abdurrahman dari Direktorat Jenderal PHKA Kementerian Kehutanan, mengingat kawasan karst sangat penting perannya dalam menopang kehidupan, maka alternatif pemanfaatan jangka panjang secara berkelanjutan yang perlu terus diupayakan dan dikembangkan adalah pengembangan wisata alam karst.

Cahyo Alkantana, seorang pembuat film dokumenter sekaligus petualang alam, berkisah mengenai yang dilakukannya saat mengembangkan Luweng Jomblang di Provinsi DI Yogyakarta. "Benteng terakhir dari konservasi adalah wisata berkelanjutan," ucapnya di dalam sebuah sesi mengenai pengembangan ekowisata pada acara Scientific Karst Exploration, di Bogor, Jawa Barat (19/9).

karst,eksplorasi,scientific karst explorationIni merupakan sebuah lapies (lapiaz), bentukan mikrokarst atau batugamping yang resisten di atas permukaan tanah. Foto diambil di Kawasan Karst Godawang, Jawa Barat, Jumat (20/9). (Gloria Samantha)

"Kembangkan dulu wisata, karena si pengelola akan menjaga objeknya itu sebagai aset," papar Cahyo.

"Contoh paling gampang—Tulamben. Memang destinasi penyelaman kapal karam Perang Dunia II ini, saat awal-awal dibuka dulu ditentang. Akan tetapi begitu semua masyarakat sekitar mendapat hasil dari pekerjaan dari penyelaman, akhirnya ikan di sana tidak boleh ditangkap. Mengapa? Yang memproteksi adalah pariwisata," lanjutnya.

"Kalau ada pertanyaan, apakah akan merusak? Tergantung pengelola. Saya tidak mau. Semua ada koridor-koridornya, antara lain memperhitungkan caring capacity gua. Yah, tidak berbondong-bondong masuk. Sebab di sini kita harus melihat bahaya terhadap manusianya, dan bahaya terhadap guanya," ungkap Cahyo.

Dikatakan lagi, untuk Jomblang tiket masuk gua yang ditariknya bagi wisatawan berkisar Rp450.000. Orang yang masuk ke gua vertikal dibatasi 25 orang per kunjungan.

"Tentunya kita bicara bukan mengenai mass tourism, melainkan eco-tourism. Ekowisata artinya kita tidak perlu membangun yang besar-besar, hanya mencoba berjalan di suatu tempat wisata dengan pemahaman ekologi," tegasnya.

Kelahiran Jakarta, 1989. Menulis dan meliput untuk National Geographic Indonesia sejak November 2010.

KOMENTAR