Silakan konfirmasikan email Anda dengan mengisi kode aktivasi melalui halaman ini.

2013 / Juli / 30   15:26

Mengangkat Kembali Pamor Arsitektur Bambu

Sudah saatnya kembali ke kearifan tradisional arsitektur Nusantara

Mengangkat Kembali Pamor Arsitektur BambuGreen School di Banjar Saren, Badung, Bali menggunakan serba bambu untuk bangunan sekolah. (Christantiowati/National Geographic Traveler)

Indonesia memiliki sekitar 159 spesies dari 1.250 jenis bambu di dunia – 88 di antaranya bahkan endemik Indonesia.

Bencana alam macam gempa yang menimbulkan banyak korban jiwa karena keruntuhan rumah dan gedung beton membuat bambu kembali dilirik. Arsitektur tradisional Indonesia banyak memanfaatkan bambu yang kuat, mudah dan cepat tumbuh dan relatif ringan. Sudah saatnya memasukkan kembali arsitektur tradisional Indonesia  dalam kurikulum arsitektur di perguruan tinggi.

Hal ini mengemuka dalam jumpa pers Lombok International Bamboo Architecture Festival  di NewSeum, Jakarta, Senin (29/7). Festival yang digelar oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Budi Pradono Architecs di Pantai Senggigi. Lombok, 11 – 14 Desember 2013 ini menampilkan 50 karya instalasi bambu dari 50 kelompok mancanegara. Karya terbaik yang dipilih oleh tim – Budi Pradono,  Jay Subiakto, Asmudjo Jono Irianto, Christoph Tonges (CONBAM – Advanced Bamboo Application, Germany).

"Dengan tema, 'Re-Design the World with Bamboo', festival ini bertujuan mengembangkan ekonomi kreatif di Lombok melalui desain arsitektur yang memanfaatkan dan meningkatkan nilai bahan lokal dan tetap menjaga lingkungan berkelanjutan,” ujar Rahaman Wibisono, Ketua IAI – NTB.

Lombok juga dipilih agar pariwisata dan ajang internasional tak hanya berpusat dan digelar di Bali. “Arsitektur merupakan satu dari 15 subsektor ekonomi kreatif yang menyumbang 4,2 persen senilai Rp19,9 triliun pada 2012,” papar Harry Waluyo, Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan Iptek, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Selain seminar, festival ini juga menjadwalkan seminar dengan pembicara Elizabeth A Wijaya, ahli taksonomi bambu dari LIPI; Budi Pradono; Yori Antar; dan Dirk E Hebel, assistant professor of Architecture and Construction ETH Zurich/FCL Singapore.

Semua instalasi bambu akan tetap menghiasi Pantai Senggigi selama tiga bulan, termasuk karya arsitek ternama yang khusus diundang – Takeru Shoji (Jepang), Pitupong Chaowakul (Thailand), Vo Trong Ngahia (Vietnam), Dirk E Hebel, dan Eko Parwoto dari tuan rumah, Indonesia. Pantai Senggigi lebih semarak mengundang wisatawan dengan karya instalasi ramah lingkungan.

Festival juga menggandeng produsen bambookote, Propan Raya, yang telah mengembangkan cat ramah lingkungan berbahan dasar air – bukan thiner – untuk pelapis dasar permukaan kulit bambu. Perusahaan Indonesia ini telah berhasil menembus IKEA dan sertifikal ecolabel dari Singapura yang terkenal ketat.

(Christantiowati)

KOMENTAR