Air, Emas Bening Nan Mahal
2013 / Juni / 28   14:23

Air, Emas Bening Nan Mahal

Banyak orang percaya bahwa kita akan dapat menghemat lebih banyak jika harganya lebih tinggi. Benarkah?

Air, Emas Bening Nan MahalSeorang penjaja air tengah mengisi jeriken-jeriken di atas gerobak airnya, di daerah Jakarta Utara. Belum semua wilayah di Jakarta terjangkau oleh pipa-pipa PAM sehingga masyarakat membelinya dari penjaja yang mengambil dari depo-depo atau kios-kios air.. (Reynold Sumayku)

Firdaus Ali dari Badan Regulator PAM DKI Jakarta pernah mengatakan bahwa daerah Pademangan Timur, Jakarta Utara, harga air Rp37 ribu hingga Rp75 ribu per meter kubik.

"Tak ada orang di dunia yang membayar air US$7 per meter kubik," ujar Firdaus dalam National Geographic Indonesia edisi Agustus 2009 silam.

Harga ini datang dari keterbatasan sumber daya air yang dimiliki Jakarta. Ibu Kota Indonesia ini membutuhkan sekitar 548 juta meter kubik air tawar bersih per tahun. Ini hanya memperhitungkan hanya untuk kebutuhan rumah tangga, belum termasuk kebutuhan industri, perkantoran, dan hotel.

Harga pemakaian air leding sangat beragam dari kota ke kota, dengan pembebanan tagihan yang hampir tidak memperhitungkan apakah daerah tersebut kaya akan air atau berapa banyak pemakaian rata-rata dalam satu hari.

air,priok,jakartaPerdagangan air di daerah Tanjung Priok, Jakarta. (Reynold Sumayku/NGI)

Banyak orang percaya bahwa kita akan dapat menghemat lebih banyak jika harganya lebih tinggi – dan umumnya harga selalu beranjak naik di seluruh dunia.

Pertanyaannya, bagaimana membuat harga air bersih terjangkau bagi para penduduk termiskin?

Harga air di Kopenhagen, Denmark, merupakan yang termahal di dunia. Nilai tersebut merefleksikan modal, biaya operasional, dan pembersihan polutan air limpasan. Sebaliknya, pajak bumi dan bangunan di Irlandia sudah mencakup pasokan air.

Lain lagi dengan harga air di San Diego yang merupakan salah satu termahal di Amerika Serikat. 90 persen dipompa dari California bagian utara dan Sungai Colorado. Sedangkan Dakar di Senegal menetapkan harga yang relatif tinggi. Tarif ini memberikan cukup pendapatan sehingga jawatan penyedia air dapat mengalirkan air ke semua penduduk, bahkan penduduk daerah kumuh.

Harga rendah dimaksudkan untuk membantu rakyat miskin. Namun, jawatan penyedia air yang selalu kekurangan dana tidak mampu melayani daerah-daerah kumuh. Seperti yang dialami New Delhi, India, yang memaksa penduduknya untuk membayar biaya tinggi kepada perusahaan air swasta.

Namun, politik juga seringkali turut menentukan harga air. Rezim di Turkmenistan dan Libia tidak mengenakan biaya (dan Kuba tidak menagih apapun, begitu juga Australia) untuk mendongkrak status, popularitas, dan kekuasaan pemimpinnya.

(Zika Zakiya. Sumber: National Geographic)

KOMENTAR