Minuman Wine Lokal dari Salak

Buah-buah lokal memiliki potensi untuk minuman fermentasi, salah satunya salak yang diketahui memiliki rasa dan kandungan yang khas.

Minuman <em>Wine</em> Lokal dari SalakSalak. (Thinkstockphoto)

Mendengar kata wine pastinya terbesit dalam pikiran Anda bahwa minuman itu diolah dari buah anggur. Namun pernahkah Anda berpikir bahwa minuman itu berasal dari buah lokal seperti salak, jambu mere, pisang uter, ketela, serta kulit pisang ambon?

Di tangan seorang peneliti dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Tri Yahya, buah-buah lokal tersebut bisa diolah menjadi minuman fermentasi. Ditemui di UKDW Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (19/11), ia menunjukkan minuman fermentasi yang awal bulan ini dibuatnya bersama mahasiswanya.

Salak dan nanas, itulah nama buah lokal yang digunakan sebagai bahan dasarnya. Namun sebelumnya, semua buah lokal di atas pernah diolahnya menjadi minuman fermentasi. “Selama ini di Indonesia khususnya, saya belum pernah menemui minuman fermentasi dari bahan dasar salak. Padahal, salak memiliki rasa sepet, daging buah yang sangat tebal, serta terdapat kandungan alkoholnya,” papar Tri Yahya.

Dengan dasar itulah, Tri Yahya pun memiliki ide untuk mencoba mengolak salak menjadi wine lokal. Alasan lain adalah buah lokal sangat mudah ditemui dan murah harganya. Terkait proses pembuatannya, buah salak dan nanas disterilisasi dengan bantauan mikroba saccharomyces cereviseae untuk menjadi alkohol.

“Satu kilogram salak bisa menghasilkan sepuluh liter minuman fermentasi. Kandungan alkoholnya pun rendah yakni 10 - 14 persen,” tandasnya.

minuman fermentasi,buah lokal,indonesia,alkohol,penghangat tubuh,salakMinuman fermentasi dari salak (Olivia Lewi/NGI)

Manfaat minuman fermentasi dari salak ternyata tidak hanya menghangatkan tubuh. Minuman ini mampu membunuh bakteri penyebab diare serta membantu pencernaan tubuh. Tentu saja manfaat ini bisa diperoleh ketika alkohol yang diminum tidak melebihi 14 persen.

Sementara itu terkait buah-buah lokal yang berpotensi diolah menjadi minuman fermentasi, Tri mengaku hanya terkendala oleh musim. Untuk itulah bila akan dikembangkan di Indonesia perlu disesuaikan dengan buah-buah apa saja yang sedang musim.

Produk wine ini juga belum berani dipasarkan karena terbentur aturan di Indonesia. Untuk itulah, produk ini hanya dipamerkan di pameran universitas.

Hermia Sampe, salah satu mahasiswa yang turut melakukan penelitian minuman fermentasi ini menyatakan bahwa rasanya juga tak kalah dengan wine dari buah anggur. Ia mengaku bahwa penelitian ini merupakan salah satu cara pemanfaatan buah lokal yang banyak tersebar di Indonesia.

“Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, lebih lagi buahnya. Dengan mengolahnya menjadi sebuah produk berguna, tentu akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat."

(Olivia Lewi Pramesti)

KOMENTAR