Menengok Repihan Majapahit di Trowulan
2012 / Agustus / 23   10:39

Metropolitan yang Hilang:

Menengok Repihan Majapahit di Trowulan

Sebuah perjalanan wisata sejarah untuk mengenang keagungan Majapahit.

Menengok Repihan Majapahit di TrowulanCandi Brahu merupakan tinggalan Buddha dari zaman Majapahit. Bangunan batu bata merah ini berada di Desa Bejijong. Para ahli arkeologi menduga bahwa keberadaan candi ini merupakan warisan dari zaman Pu Sindok pada abad ke-10 (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)

Ramai kendang berpadu dengan cimplung, jidor, dan kempul mengiringi para sinden bersuara bak penyanyi seriosa. Mereka melantunkan tembang-tembang Jawa yang sepertinya dinyayikan tiga oktaf lebih tinggi untuk memanggil warga berkumpul di perempatan Desa Trowulan. Suatu malam pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, kuda lumping dipentaskan untuk memberikan keselamatan bagi warga desa.

Sejak Thomas Stamford Raffles menorehkan nama Trowulan—sebuah desa kecil dekat Mojokerto—dalam bukunya History of Java yang terbit pada1817, banyak peneliti mulai terkesima dengan eksotisnya nama Majapahit. Seabad kemudian Henri Maclaine Pont, seorang arsitek Belanda, menjadi orang pertama yang melakukan penggalian amatir di situs Trowulan. Berdasarkan Kakawin Nagarakertagama dan temuan lapangan, Pont mencoba merekonstruksi Kota Majapahit itu. Kelak usaha rekonstruksi itu dilanjutkan oleh beberapa ahli sejarah dan arkeologi hingga kini dengan temuan yang beragam.

Di manakah Pont tinggal selama dia meneliti Trowulan? Sebuah rumah indis akhir abad ke-19 dengan beranda luas berhias pilar-pilar menjadi rumah Pont. Kini rumah bersejarah itu masih bisa dijumpai dalam kondisi sangat terawat karena menjadi bagian Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Jawa Timur di jalan raya Mojokerto-Jombang. Apabila Anda dari arah Kota Mojokerto, Gapura Wringin Lawang, sebuah bangunan gerbang tanpa atap, akan menyambut sebelum memasuki kawasan Trowulan.

Kerajaan Majapahit dikenal jago dalam teknologi tata kelola air. Sayangnya kanal-kanal yang mengelilingi dan saling berpotongan secara tegak lurus di kota Majapahit itu sekarang tak tampak lagi. Namun, sebuah penanda adanya teknologi tata air di kota kuno itu adalah kolam Segaran, yang artinya laut buatan. Luas Segaran kira-kira enam kali lapangan sepak bola, dan mungkin menjadi kolam buatan manusia terluas di dunia.

rumah indis,henry maclaine pont,trowlan,majapahitRumah indis akhir abad ke-19 ini terletak di jalan raya Mojokerto-Jombang. Henry Maclaine Pont pernah tinggal di rumah ini pada awal abad ke-20. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Situs lain yang masih berhubungan dengan teknologi tata air terletak di Trowulan sisi tenggara. Sebuah petirtaan kuno dari terakota yang lebih dikenal warga sebagai Candi Tikus. Pada 1914 petirtaan ini ditemukan warga secara tak sengaja ketika memburu hama tikus sehingga dinamai mirip hama perusak padi itu. Tak jauh dari petirtaan tersebut berdiri Gapura Bajang Ratu, bangunan batu bata berdesain paduraksa atau gapura beratap.

Desa Sentonorejo, Trowulan, sebuah kawasan yang dulunya dikelilingi kanal kuno, saat ini menjadi perhatian para ahli arkeologi. Temuan lantai segi enam, struktur bangunan di situs yang bernama Kedaton, deretan umpak persegi delapan, dan temuan-temuan permukiman telah menunjukkan bahwa kawasan ini diduga bagian keraton Majapahit.

Sebelah selatan Sentonorejo, terdapat situs Makam Troloyo. Terdapat beberapa makam Islam abad ke-14 dan 15. Situs permakaman ini menunjukkan bahwa kerukunan beragama telah terbina di Kota Majapahit. Seperti situs-situs lain di Indonesia, banyak legenda yang berkait dengan keberadaan makam Islam ini.

Kembali ke kawasan Segaran. Jika Anda melapar saat berkunjung ke Trowulan, beberapa warung di seberang kolam raksasa dengan menu khas ikan wader goreng dengan sambal nan mengelora, mangut lele, dan rawon siap puaskan selera.

segaran,kuliner,majapahit,trowulanIkan wader goreng dengan sambal yang bersemayam di dasar piring dan mangut lele menjadi pilihan santap siang di depan Segaran. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Apabila melihat tinggalan permukiman dan bangunan lainnya, kapan Trowulan ini mulai dihuni? Sebuah prasasti yang berada pada situs Kubur Panjang, demikian warga Trowulan menjulukinya, menyebutkan penanaman pohon bodhi pada 1281. Hal ini menunjukkan adanya dugaan bahwa pada zaman Singhasari Trowulan sudah berpenghuni. Bahkan, lempeng prasasti yang ditemukan kawasan kompleks percandian di Bejijong menunjukkan bahwa pada abad ke-10 kawasan ini telah dihuni dinasti keturunan Mataram Kuno. Di Bejijong kini masih terdapat tinggalan dua candi, yaitu Candi Brahu dan Candi Gentong.

Makam Putri Cempa yang terletak tak jauh dari kawasan kolam Segaran dipercaya warga sebagai salah satu selir raja Majapahit asal Campa, begitulah legendanya, entah bagaimana sejarah sesungguhnya. Pastinya, makam Islam abad ke-15 ini ramai dikunjungi peziarah pada hari-hari tertentu pada penanggalan Jawa.

Jika Anda meniti dari garis tengah kolam Segaran menuju ke arah timur, Anda akan menemui sebuah reruntuhan Candi Menak Jinggo dengan bongkahan-bongkahan batu andesit. Sebuah patung garuda dari candi ini telah dipindahkan ke Museum Trowulan.

Tidak afdol apabila berkunjung ke tanah bekas kota kuno ini tanpa menyambangi Museum Trowulan yang merupakan museum dengan koleksi terlengkap tinggalan Majapahit: arca, relief, patung terakota, hingga pipa-pipa kuno. Di hamparan halaman museum itu terdapat struktur-struktur bangunan permukiman kuno yang ditampak-ulangkan beserta kearifannya: selokan batu bata dan lantai kerakal yang disusun supaya air mudah meresap.

Wicaksono Dwi Nugroho, selaku Koordinator Museum Trowulan telah merintis “Komunitas Jawa Kuno” yang sebulan dua kali bertemu di Museum Trowulan. Dia mengatakan bahwa komunitas ini bergiat bagaimana menulis huruf dan angka Jawa kuno, hingga membaca prasasti.  Meskipun baru berjalan setengah tahun, paguyuban ini sudah menggaet anggota sejumlah 30-40 orang awam asal kota-kota di Jawa Timur hingga Yogyakarta. Inilah salah satu bentuk pelestarian budaya yang dilakukan masyarakat secara sukarela untuk menyelamatkan warisan leluhur.

Malam itu perempatan desa Trowulan kian hingar bingar. Sesajen pisang, kembang, dan kemenyan menyeruakkan aroma magis. Lelaki berbadan gempal yang memerankan penari pembuka atau ganongan telah kesurupan. Bagi para penari, tak ada makna khusus dari tarian ini selain mewarisi budaya leluhur tanah Majapahit, sekaligus memberikan keselamatan desa. Awal pementasan mereka segera dimulai, seluruh pengiring bersiap seraya menyerukan nama paguyuban seni kuda lumping mereka, ”Majapahit Jaya!”

(Mahandis Y. Thamrin/NGI)

KOMENTAR