Silakan konfirmasikan email Anda dengan mengisi kode aktivasi melalui halaman ini.

Kaum Muda Tidak Kuliah Penyebab Kurangnya Tenaga Ahli Indonesia

"Jangan sampai anak-anak kita usia 18 tahun langsung bekerja. Kita dorong mereka ke Perguruan Tinggi."

Kaum Muda Tidak Kuliah Penyebab Kurangnya Tenaga Ahli IndonesiaBuruh anak (Sutardjo Soeharto/Fotokita.net)

Menko Perekonomian Hatta Radjasa mengatakan, salah satu hal yang harus diperbaiki dalam dunia pendidikan Indonesia adalah meningkatkan minat pemuda untuk masuk jurusan sceince dan engineering di tingkat Perguruan Tinggi. Tak hanya itu, Hatta juga mendorong pemuda Indonesia untuk berkecimpung dalam bidang kewirausahaan.

“Kami berharap, Indonesia memiliki banyak ahli di bidangnya. Oleh karenanya pemerintah terus mendorong pemuda Indonesia untuk studi lanjut ke luar negeri khususnya untuk program S2 untuk membuka wawasan mereka,” papar Hatta saat pelepasan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di UGM, Kamis (28/6).

Minimnya tenaga ahli di Indonesia, kata Menteri, disebabkan karena sedikitnya pemuda Indonesia usia 17-20 tahun yang masuk ke perguruan tinggi. Tahun ini, baru delapan persen pemuda usia 17-20 tahun yang masuk ke PT. Jumlah ini masih sedikit dibandingkan Malaysia yang mencapai 20 persen lebih.

Pada 2019-2020 mendatang, pemerintah menargetkan sebanyak 20 persen pemuda Indonesia usia 17-20 tahun masuk ke perguruan tinggi. Untuk itulah, akan ditambah beasiswa dan anggaran pendidikan untuk keberhasilan program tersebut. "Jangan sampai anak-anak kita usia 18 tahun langsung bekerja. Kita dorong mereka ke PT. Salah satunya dengan program Keluarga Harapan, yang mendorong masyarakat  menuju wajib belajar 12 tahun dulu," katanya.

Dalam kesempatan itu, Hatta melepas 5.588 mahasiswa dalam KKN Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM. Hatta mendorong program ini untuk mendukung pencapaian pengentasan kemiskinan sebelum berakhirnya Millenium Development Goals (MDGs) 2015.

“KKN ini saya harapkan betul mendekatkan pentingnya pencapaian kita terhadap MDGs tahun 2015. Melalui program KKN, mahasiswa bisa mempraktikkan langsung ilmunya di tengah masyarakat,” tandasnya.

Rektor UGM Pratikno, menyebutkan UGM mengirim 5.588 mahasiswa KKN PPM yang ditempatkan di 23 provinsi, terdiri dari 47 kabupaten di luar Jawa, dan 38 kabupaten/kota di Jawa. Bahkan puluhan mahasiswa asing dari 15 negara ikut dalam program  tersebut, di antaranya mahasiswa dari Australia, Hongkong, Jepang, Jerman, Jerman, dan Afrika selatan.

“Lewat KKN ini sebagai bagian saling belajar, bukan lagi antar mahasiswa, tapi juga mahasiswa asing untuk memberdayakan masyarakat,” katanya.

Selama tiga bulan, para mahasiswa ini melaksanakan 16 tema kegiatan KKN PPM UGM. Di antaranya pengembangan kehidupan sosial budaya yang berbasis kearifan lokal dan karakter bangsa, bidang pendidikan, kesadaran politik dan hukum, pertanian dan peternakan, pengelolaan lingkungan, energi terbarukan, TI, serta tanggap dan mitigasi bencana.

(Olivia Lewi Pramesti)

KOMENTAR