Silakan konfirmasikan email Anda dengan mengisi kode aktivasi melalui halaman ini.

2012 / Januari / 11   12:38

Helm Bangsa Roma Ini Sempat Dikira Ember Berkarat

 

Sebuah helm yang diperkirakan berasal dari invasi pasukan Roma ke Inggris sekitar 2.000 tahun lalu ditunjukkan kepada publik, Selasa (10/1). Helm yang terbuat dari besi ini diperkirakan tadinya dihiasi dengan ukiran perak dan daun emas.

Selain itu lingkaran helm ini dipenuhi dengan simbol-simbol kemenangan militer. Di bagian ujung kepalanya menampilkan ukiran timbul perempuan yang diapit oleh singa dan beberapa binatang lainnya. Helm yang disebut dengan The Hallaton Helmet ini selanjutnya akan ditunjukkan secara permanen kepada publik di Harborough Museum, Market Harborough, Leicestershire, Inggris, mulai 28 Januari mendatang.

Helm ini sebenarnya sudah ditemukan sejak 10 tahun lalu dalam penggalian di Hallaton di Leicestershire. Namun, karena saat itu para ahli yang terlibat lebih sering menemukan koin emas dan perak, helm itu dianggap sebagai 'ember berkarat.' Yang mereka tidak sadari, helm itu adalah penemuan penting karena mengindikasikan hubungan invasi bangsa Roma dengan warga asli Inggris.

"Helm ini bentuknya tidak terlalu rusak, tampaknya helm ini diambil setelah peperangan," ujar Peter Liddle yang masuk dalam komunitas arkeologi untuk Leicestershire County Council.

"Ada dua kemungkinan, helm ini adalah milik bangsa Inggris yang bertempur bersama militer Roma dan kembali dengan selamat. Atau ini adalah hadiah diplomatik dari bangsa Roma untuk penguasa lokal sebagai pengikat persekutuan di antara mereka."

Kedua peluang yang disebutkan Liddle menjadi tantangan sendiri karena mematahkan teori perang antara bangsa Roma dan Inggris di tahun 43 Masehi. Saat itu tengah berlangsung invasi bangsa Roma di bawah Kaisar Claudius.

Situs tempat helm ini ditemukan juga bukan lokasi perang. Melainkan lokasi pusat keagamaan yang akhirnya menghasilkan penemukan koin-koin kuno terbesar dalam sejarah Inggris.

Saat ditemukan, helm ini harus diangkat dari dalam tanah dan diangkut ke British Museum. Di sini, para ahli mengumpulkan waktu bertahun-tahun untuk menyatukan ratusan pecahan yang ada dengan bantuan teknologi tiga dimensi (3D).  (Reuters)

KOMENTAR